JANGAN SOMBONG

Featured Kegiatan

PEMBACAAN ALKITAB: 2  RAJA-RAJA 5: 1-16

Ada sebuah pepatah tua berkata: “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya ia jatuh ke tanah juga”. Pepatah ini mau mengatakan bahwa sehebat-hebatnya manusia, dia tetap memiliki kelemahan atau kekurangan. Dia tidak selalu hanya berada di atas tetapi dia juga ada di bawah dan sama dengan orang lain. Tetapi biasanya  banyak orang tidak mau mengakui kelemahan dan kekurangannya. Kalau sudah duduk di atas, dia tidak mau lagi turun. Malah dia selalu mau menonjolkan kelebihannya. Dengan berbagai cara dia akan menutupi kelemahan-kelemahannya supaya tetap tampak kuat dan hebat di depan orang lain. Apa lagi kalau dia selalu sukses dan sangat dihormati oleh orang yang lebih tinggi jabatannya maka dia akan merasa tidak nyaman kalau ada orang yang meremehkan kelebihannya.  Atau apabila ada sedikit kekurangan saja, hal ini akan mencemaskan dirinya. Dan karena itu, tidak jarang banyak orang yang kecewa, stress dan kehilangan harapan untuk hidup. Berhadapan dengan kenyataan hidup yang demikian, apakah yang harus kita lakukan? Apakah kita pasrah sudah terhadap keadaan? Untuk menjawab berbagai pertanyaan ini, saya mengajak kita untuk kita belajar dari Firman Tuhan yang baru saja kita baca dan dengar tadi.

Bacaan kita tadi menggambarkan tentang perjalanan hidup seorang tokoh bernama Naaman. Sesuai dengan arti namanya,Naaman artinya: menyenangkan; maka Naaman adalah gambaran seorang yang sangat komplit hidupnya. Hidup yang dikelilingi oleh kemewahan dan kesenangan atau kebahagiaan. Betapa tidak. Dia adalah seorang Panglima Perang bangsa Aram. Seorang panglima perang yang  terpandang dan dihargai oleh Benhadad Raja Aram. Dia juga sangat disayangi oleh Raja. Tentu saja bukan karena dia selalu cari muka dengan raja, sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang zaman ini. Naaman juga disayangi bukan karena dia seorang bawahan yang “yes man” atau yang ABS (Asal Bapa Senang). Naaman juga orang yang terpandang bukan karena kedekatannya atau karena anak emasnya raja.   Dia disenangi karena prestasinya; Karena ketika pergi medan perang dia selalu membawa kemenangan. Kemenangan tidak hanya untuk kelompok atau pribadi tertentu. Tetapi kemenangan itu untuk bangsa Aram. Kesusksesan yang dicapai Naaman dipersembahan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Aram. Bukan hanya untuk segelintir orang, sebagaimana sering terjadi dalam dunia kita sekarang ini. Inilah luar biasanya Naaman. Panglima Perang yang hebat, menyenangkan tuannya, membanggakan bangsanya tetapi juga bersahabat  dengan para prajurit yang dipimpinnya. Ini sisi hidup yang satu dari Naaman.

Tetapi siapa sangka bahwa dibalik tampilan yang hebat dari Naaman sebagaimana digambarkan di atas, ternyata ada sisi lain yang buram; sisi yang mencemaskan Naaman. Sebab dibalik  segala keberhasilan yang sudah dipersembahkannya kepada raja dan bangsanya, dibalik segala kelebihan dan kehebatannya ternyata Naaman juga memiliki sisi kekurangan. Dikatakan  bahwa Naaman  sakit kusta (bnd. Imamat 13-14).  Satu penyakit yang secara agama dan sosial menyebabkan orang itu akan diasingkan atau disisihkan dari tengah masyarakat.  Seorang yang sudah resmi dinyatakan mengidap sakit kusta, akan kehilangan hak-hak di tengah masyarakat. Itu berarti, kalau Naaman mengidap sakit kusta; maka segala kesenangan, kehebatannya akan segera berakhir. Raja yang sangat menyanjung nya akan berpaling dari dirinya. Rakyat yang selalu menyambutnya dengan gembira saat pulang medan perang, akan segera menjauh karena takut akan penyakit yang diderita Naaman.

Tapi cemaskah Namaan? Tentu saja cemas. Siapakah yang tidak akan takut kehilangan segala kesenangan dan kesuksesan di atas? Tapi, hilang harapkah Naaman karena  penyakit yang dia alami? Apakah dia akan melakukan hal-hal yang merusak dirinya, seperti yang dilakukan oleh anak-anak SMU/SMK yang tidak lulus? Apakah Naaman demi menutupi kekurangan yang dia alami,lalu melempar kesalahan kepada orang lain; seperti yang terjadi saat pengumuman lulus SMU/SMK/SLTP. Ketika ada sekolah yang 0 % kelulusannya, maka Dinas PPO menyalahkan kepala sekolah dan kepala sekolah menyalahkan para guru, dan para guru menyalahkan murid yang tidak mau belajar atau orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya belajar; Orangtua pun tidak mau kalah, dan dia menyalahkan guru yang cara mengajarnya tidak kena sasaran; atau secara umum banyak pihak mempersalahkan system UAN yang tidak melibatkan sekolah dimana para murid/siswa dididik; system penilaiannnya dstnya.

Naaman ternyata bukan tipe manusia seperti di atas. Dia tidak cepat kecewa dan putus harapan. Dia seorang yang sangat terpuji dan menyenangkan. Seorang budak pun prihatin dengan penyakit yang dialaminya; sehingga budak itu mau memberikan jalan keluar. Naaman diberitahu bahwa ada seorang abdi Tuhan bernama Elisa yang bisa menolongnya. Usul budak itu dia dengar. Jarang ada pejabat atau orang yang sudah disanjung dan dihormati mau mendengar usul-saran seorang rakyat jelata. Sebab prinsipnya adalah: “dia tahu apa”, beta yang “paling tahu segala sesuatu”. Malah Raja pun tetap menunjukkan kasihnya dengan menulis surat kepada Raja Israel agar melalui nabi Elisa dapat menolong Naaman.  Dan semua perhatian orang lain dia hargai. Tentu ini sangat berbeda dengan sifat dan sikap orang kebanyakan sekarang ini. Perintah raja agar dia bisa membawa surat demi kesembuhannya dia jalani dan taati. Dia tidak  minder untuk bertemu dengan orang lain karena kekurangan dirinya (penyakit kusta).

Demikian pula ketika dia bertemu dengan nabi Elisa dia tidak segan-segan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak masuk di akalnya. Bahkan membuatnya panas hati. Sebab dia disuruh untuk mandi selama 7 kali di sungai Yordan. Tentu saja kebiasaan ini tidak pernah dilakukannya sebagai seorang panglima Perang. Mana ada pejabat yang mau turun mandi kali atau sungai. Justru tempat mandinya adalah di kamar mandi yang mewah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang membuatnya semakin sehat dan tetap tegap sebagai seorang panglima. Dan lagi-lagi, Naaman atas nasehat para pegawainya  akhirnya dia  taat. Dia melakukan sebagaimana diperintahkan Elisa sehingga ia menjadi pulih secara agama tetapi juga secara social. Naaman tidak lagi diasingkan atau disingkirkan dari persekutuan masyarakat lantaran kusta yang dideritanya.

Apa yang dapat kita belajar dari sikap hidup Naaman melalui bacaan kita saat ini? Ada beberapa hal yang perlu kita belajar :

Pertama, ketaatan dan dengar-dengar akan kehendak Tuhan dan dengar akan nasehat sesama merupakan hal yang dapat menolong kita untuk keluar dari berbagai persoalan. Karena itu, ketika menghadapi masalah janganlah kita tanggung sendiri atau hanya mencari jalan sendiri yang justru kadang-kadang bukannya menolong kita untuk keluar dari masalah, malah menambah masalah baru. Akibatnya kita semakin stress dan hilang harap dalam menjalani kehidupan ini. Naaman memberi pelajaran kepada kita. Dia mau mendengar nasehat budaknya, dia mengikuti apa yang diperintahkan raja atau nabi Elisa. Hanya dengan dengar-dengar saja maka persoalan yang kita hadapi bisa teratasi. Pertanyaan bagi kita, maukah kita atau relakah kita menjadi orang yang taat dan dengar-dengaran akan nasehat dan perintah Tuhan?

Kedua, sehebat-hebatnya kita janganlah kita merasa diri paling sempurnana dan tidak membutuhkan orang lain. Apa lagi tidak membutuhkan Tuhan dalam hidup kita. Jika prinsip ini kita praktekkan maka kita akan menjadi orang yang cepat kecewa dan putus asa. Sebab kita tidak terbuka mata dan mau menyadari bahwa sesungguhnya kita juga penuh kekurangan. Hanya atas kesadaran ini saja, kita bisa terbuka dan mau dengan rendah hati   berkata: “sempurnakanlah aku Tuhan dari hari kesehari, sebab tanpa Engkau mengisi hidupku, aku akan semakin jauh dari kesempurnaan”. Semoga ini menjadi pengakuan dan harapan kita. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *