IMAN BUKAN TERGANTUNG SITUASI

Featured Khotbah

Nats Pembimbing      : Ibrani 11:1

Pembacaan Alkitab   : Yohanes 20 : 24 – 29

Pembacaan Mazmur  : Mazmur 37 : 1 – 11

TEMA : IMAN BUKAN TERGANTUNG SITUASI

 

Bicara soal iman bukan lagi suatu hal yang baru. Tapi jika ditanya sebesar apa  iman kita? Atau dgn apakah kita dapat mengukur iman kita itu? Apakah jawab kita? Sebesar biji sesawi yang adalh biji yang paling kecil dari semua jenis biji-bijian? Atau apa? Lalu bagaimana pula cara kita menyatakan iman kita? Cantumkan nama depan kita dengan nama Kristen? Markus, Lukas, Yohanes, Yakobus, Daniel, Maria, Martha, Ayub, Daud, Paulus dstnya? Atau hias tembok rumah degnan ayat-ayat Alkitab atau gambar Tuhan Yesus? Pakai kalung salib besar-besar?

 

Bapak/ibu /sdra/i yg dikasihi Tuhan…

Iman orang kristen dan bukti iman itu seringkali  yang dipersoalkan.Mengapa? karena  kadang kali iman kita tergantung situasi yg sedang terjadi.Situasi dapat mengubah sikap hidup iman kita.

Jika kita kembali kepada firman Tuhan yang baru kita baca, didalamnya diceritakan tentang Tomas yang tidak mau percaya sebelum melihat. Tomas yang tidak mau yakin bahwa Yesus itu sudah bangkit sebelum dapat bukti. Dari sisi kemanusiaan ini dapat di benarkan, sebab situasi di luar persekutuan murid-murid menjelaskan lain,berita yang disebar luaskan oleh imam-imam kepala yg sudah mengadakan perundingan dengan tua-tua untuk menutup mulut para serdadu penjaga kubur agar mereka dapat memutarbalikkan fakta kebangqtn bahwa mayat Yesus  di curi malam-malam oleh murid-muridNya pada waktu  penjaga sedang tidur.Pemutarbalikan fakta inilah yang menjadi dasar mengapa Tomas belum mau percaya . sehingga ketika Yesus menampakkan diri dan menunjukan bukti, Yesus berkata kepada Tomas “karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”, Apa artinya? Artinya adalah berbahagialah kita, bapa/mama/sdra/i dan saya, bila percaya kita tidak bergantung, tidak berdasar kepada yang fisik atau yang benar-benar ada. Dalam nats pembimbing kita dikatakan bahwa  itulah iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Jadi iman itu tidak menuntut bukti dari apa yang tidak kita lihat. Iman adalah bukti itu sendiri.

Bapa/mama/sdra/i…

Iman penting ketika kia berhadapan dengan semua hal yang serba tidak masuk akal dalam kacamata pemikiran manusia. Dan jelas bagi kita bahwa sebenarnya iman sangat sulit ditemukan dalam diri setiap orang sampai-sampai Yesus harus bilang siapa yg punya iman sebesar biji sesawi saja, ia bisa buat apa yang ia mau.

Kalau kita bilang bahwa Allah itu berkuasa maka kita sebenarnya tidak perlu was-was akan semua hal yang sulit terjawab, semua hal yg mustahil sebab Allah kan punya kuasa. Dan dgn kuasaNya Allah bisa buat apa saja. Kalauo kita bilang Allah berkuasa dan kita tidak beriman maka kita menipu diri kita sendiri. Kadang kita ragu akan masa depan kita, kita ragu karena sampai saat ini kita belum dapat pekerjaan, kita ragu sebab usaha kita tidak berkembang, kita ragu karena tanaman kita tidak banyak hasil, kita ragu karena anak-anak kita sudah selesai UAN sebentar mau kuliah, biayanya dari mana. kita ragu sudah selesai UAN, kira-kira lulus atau tidak… kalau kita selalu ragu, lalu untuk apa kita beriman pada Allah? Utk apa kita beriman kepada sesuatu yang kadang-kadang masih buat kita ragu?

Bapa/mama/sdra/i… Kalau kita berkata “siapa  bilang saya tidak beriman? Saya beriman koq…” Jika memang kita beriman, bagaimana cara menerapkan iman itu? Tentu kita akan bilang “yah… selain percaya buat semua yang benar menurut Allah”. Setiap di tanya pasti kita akan menjawab demikian tapi kapan realisasinya? Coba kita berpikir secara sederhana saja, ketika kita datang gereja dan dengar firman Tuhan, apa wujud dari percaya itu? Tentu kita akan bilang, kita tidak hanya harus jadi pendengar tapi juga pelaku firman. Menurut Yakobus juga, cara yang paling ampuh untuk membuktikan iman kita adalah dengan perbuatan. Tindakan kita bisa memberi kesaksian yang amat indah tetang iman kita. Sebaliknya apa yang kita lakukan bisa memberi kesaksian yang amat buruk  tentang iman. Jadi kalau kita datang gereja dan dengar Firman maka yang kita dengar itu harus dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Tidak cukup dgn rajin bergereja. Sebab Tuhan bilang “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan dia yg melakukan kehendak BapaKu di sorga.” Bukan dia yang rajin gereja tetapi setelah itu membuat pertikaian, dia yang rajin ibadah tetapi setelah itu membenci, mendendam, dia yang kasih persembahan yang banyak tapi setelah itu hitung-hitung dengan Tuhan, dia  yang melayani Tuhan tapi setelah itu minta balasan Tuhan. Bukan dia-dia itu yang akan masuk ke dalam kerajaan sorga tapi dia yang setelah dengar firman Tuhan, ketika pulang berbuat seperti apa yang menjadi kata firman. Sebab jika kita hanya jadi pendengar firman, maka usaha kita bukan hanya sia-sia tapi kita akan gigit jari. Sudah capai antri dengan keyakinan kita, sudah buang-buang waktu, tenaga, materi untuk Tuhan dengan suatu keyakinan bahwa kita pasti dapat tiket ke sorga… tiba-tiba Tuhan berkata “Aku tidak pernah mengenal engkau! Enyahlah dari padaKu!”.

Bapa/mama/sdra/i…

Orang-orang Kristen yang hanya mau jadi pendengar, dan bukan pelaku firman, ibarat orang yg baru bangun tidur lalu berkaca. Ia lihat keadaannya bagaimana, tapi sayag cuma melihat. Rambut masih acak-acakan, muka berantakan tapi langsung jalan. Tidak ada tindakan apa-apa. Jadi percuma ada cermin. Percuma bercermin! Sama dengan kita, begitu dengar firman Tuhan, kita sadar bahwa hidup kita acak-acakan, hidup kita berantakan namun kita tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya. Minggu depan datang lagi, berkaca lagi, tetapi tetap acak-acakan.

Karena  itu Bapa/mama/sdra/i…

Kalau kita tidak mau seperti Tomas…Mari kita terus beriman kepada Tuhan sekalipun bagi kita, Allah tidak buat suatu mujizat di depan kitat… sadar atau tidak sebenarnya dalam kehidupan tiap-tiap hari Allah banyak buat mujizat. Kasih napas, kasih kekuatan, kasih kesehatan, kasih keberhasilan, kasih hari baru. Sepintar apapun seseorang dia tidak mungkin bisa merubah malam menjadi pagi, siang menjadi malam. Hanya Tuhan yang bisa tapi karena kita sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu membuat kita selalu menganggap hal-hal seperti itu sebagai hal yang biasa. Padahal itu juga merupakan suatu keajaiban yg di buat Tuhan. Dan karenaitu hal yang begitu luar biasa, Tuhan bisa buat apalagi persoalan kita, pasti Tuhan mampu menjawabnya. Oleh karena  itu dalam keadaan hidup yang bagaimanapun, mau susah mau senang, mau baik mau buruk keadaannya, kokohkan terus iman kita kepadaNya. Tunjukkan arti ibadah kita. Sebab ibadah yang murni bukan ketika kita duduk berbakti seperti saat ini tetapi ibadah yang murni adalah ibadah yang dilakukan dalam iman dan perbuatan. Bukan berarti bahwa gereja/ibadah itu tidak penting. Itu pemikiran yang salah. Gereja/ibadah itu sangat penting tapi tidak hanya cukup dengan itu, ibadah itu barulah berarti ketika ada iman, ada perbuatan. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *