KEPEMIMPINAN DAN KEBUDAYAAN

Artikel Featured

(sambungan edisi Juni 2017)

 

KEPEMIMPINAN DAN KEBUDAYAAN

Oleh : Adam Horison Bao

Kancah kehidupan global dengan khasanah interaksi sosial yang semakin keras, ditandai dengan persaingan hidup yang ketat dengan sedirinya menuntut sikap tanggap dan karya kreatif para pemimpin dengan menggerakan segenap potensi yang dimilkinya. Dalam konteks perubahan sosial, politik, ekonomi dan sistem nilai, orang harus   harus bersikap kritis dengan setiap elemen dari pandngan dunia ini(tidak melulu setuju/menerima) dan bersamaan dengan itu dituntut kejelian dan ketrampilan untuk mengatur segala sesuatu yang dihadirkan oleh perubahan jaman dalam konteksnya.

Dengan demikian jelas bahwa seorang pemimpin harus mampu membaca perubahan dan mengantisipasi setiap peristiwa dan menuangkannya ke dalam suatu tindakan kreatif yang sudah direncanakan untuk kemajuan suatu organisasi kedepan. Oleh karena itu hal yang paling diperlukan oleh pemimpin adalah managemen strategis dan fokus bukan proses yang terbagi untuk memhami fenomena kekinian dalam interaksi sosial.

Aspek-aspek Pengembangan Kepemimpinan;

Pemeimoin dan kepemimpinan ada karena tuntutan kehidupan kelompok sosial atau organisasi. Denga begitu pemimpin memegang peran kunci sebagai motor penggerak atau dinamisator dan motivator pengembangan kelompok sosial sebagai lembaga terstrutur dan terpimpin. Menurut hemat saya berbicara tentasng pengembangan dan kemajuan kelompok sosial tidak terlepas dari pengembangan kepemimpinan sebagai titik berangkatnya. Hal ini mencakup dua aspek sekaligus; pertama aspek integritas diri pemimpin, dan aspek operasional kepemimipinan. Artinnya seorang pememipin harus berpegang pada nilai-nilai kebenaran berdasarka Firman Allah sehingga memberi keteladanan yang kuat dan memiliki strategis konsulidasi  dengan semua elemen.

Aspek integritas diri;

Merujuk pada I Timotius 3:2-3 nampak bahwa yang dituntut dari serorang pemimpin lebih dari sekedar kwalifikasi rohani yakni tidak hanya dilihat dan dinilai dari jabatan sebagai pendeta, penatua, diaken dan pengajar, tetapi harus dibarengi dengan kwalitas kepribadian yang kokoh dan dewasa yang tercermin lewat dedikasi atau sikap pengabdian yang tinggi pada tugas dan tanggung jawabnya. Berikut ini akan disebutkan beberapa ciri penting yang menandai karakter seorang pemimpin;

  1. Berdisiplin

Tekad yang kuat untuk berdisiplin dan mewujudkannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan merupakan modal utama untuk berkembang. Tanpa menjadikan disiplin sebagai sikap dan gaya hidup, maka semua karunia lain yang dimiliki seorang pemimpin tidak akan berfungsi optimal, apalagi bertumbu-kembang dan memberi dampak positif yang signifikan. Bagi penulis orang yang sudah menerapkan disiplin sebagai gaya hidupnya, orang itulah yang dapat mencapai daya kerja dan pengabdian yang tinggi, dan hanya orang yang mendisiplin dan menakhlukan diri sendiri, orang itulah yang dapat memimpin orang lain. Menurut Paulus , “siapa yang memberi pimpinan, ia harus melakukannya dengan rajin”(Roma,12:8). Hal ini memberi penegasan bahwa kedisplinan seseorang haruslah nampak melalui kerajinannya akan pekerjaannya. Bagaimana dengan kita?

  1. Berhikmat

Pada dasarnya hikmat memiliki konotasi kebijaksanaan yang didalanya terkandung pengetahuan dan pengertian yang bersumber dari Roh Kudus. Bagi seorang pememimpin hikmat diperlukan untuk memampukan dirinya memanfaatkan pengetahuan dengan sebaik-baiknya. Menjadikan ia cakap untuk membedakan dan menilai segala sesuatu serta mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan. Bertindak dalam hikmat memungkinkan seorang pemimipin terus berada dalam keseimbangan yang sekaligus menjauhkan dirinya dari ketimpangan dan sikap arogan ekstrim atau perilaku yang berlebih-lebihan. Sikap dan keputusannya tidak didasarkan pada ketersinggungan perasaan dan  tekanan  dari pihak tertentu, melainkan pada nilai-nilai kebenaran yanng di yakininya.

  1. Konsisten Terhadap Prinsip

Seorang pemimpin harulah seorang yang pantang menghianati hati nuraninya. Ia harus memgang taguh prinsip yang diyakininya, berani bertindak atasnama kebenaran, walaupun melawan arus yang umum dalam lingkungannya, tidak ragu-ragu melawan ketidakadilan, ketidak benaran walaupun dengan resiko mempertaruhkan kedudukan dan harga dirinya. Searah dengan itu nasihat Yitro kepada menantunya, Musa patut disimak.”Disamping itu kau carilah dari seluruh banggsa ini orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan benci terhadap pengejaran suap.”(Kel. 18:21) menurut A.M Mangun Hardjana, kesetiaan akan kebenaran akan menghindarkan pemimpin untuk berbuat atau mengambil tindakan semata-mata di dasarkan pada emosi atau pendapat pribadi atau isue yang tidak jelas. Kalau pemimpin bertindak di atas dasar kebenaran, pemimipn tidak ragu-ragu dan bergerak maju terus walaupun banyak rintangan. Berani mengambil resiko untuk tidak menjadi populer dengan keputusannya yang mungkin tidak didukung oleh  mayoritas. tidak mencari zona aman bagi diri sendiri.

  1. Low Profile

Inti dari Kepemimpinan adalah pengabdian yang menghamba. Karena itu sikap rendah hati benar-benar harus mengemuka dalam setiap kiprah seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus melihat dan menilai  dirinya secara realistis, baik dari sisi positif maupun negatif( kelebihan dan kelemahan). Dengan begitu ia dapat menempatkan diri apa adanya, tidak merasa super atau sebaliknya tidak menjadi minder. Dalam pengenalan dirinya sebagai pribadi yang telah ditebus Tuhan, seorang pemimpin menemukan betapa tinggi martabatnya di hadapan Tuhan. Ia yakin dapat menyumbangkan kelebihannya bagi sesama. Namun sementara itu ia sadar bahwa dirinya tidak sempurna, sehingga membuthkan dukungan sesamanya. Paulus adalah salah satu toko iman di Alkitab yang telah membuktikan dirinya sebagai hamba Tuhan yang terus memelihara sikap rendah hatinya di hadapan Tuhan dan sesamanya. Menurut penulis tantangan terberat bagi seorang pemimpin adalah ketika ia berada pada posisi puncak. Semakin tinggi tingkat keberhasilan seorang pemimpin semakin rentan kesimbangan rohaninya tergoyahkan olah keangkuhan dan keegoisan. Tapi yang  paling parah adalah belum mencapai posisi puncak tapi sudah mulai angkuh. Jika demikian maka kegagalan sudah mulai terlihat di depan mata. Sebagai pemimpin gereja, bagai mana dengan kita? Apakah kita kita telah memenuhi empat ciri ideal kepemimpinan? …………………………bersambung****

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *