KEPEMIMPINAN DAN KEBUDAYAAN

Artikel Featured

KEPEMIMPINAN DAN KEBUDAYAAN

Oleh Pnt. Adam Horison Bao

Dalam rangka perayaan bulan budaya dan bahasa GMIT tahun  2017 yang telah berlangsung pada bulan mei, maka kali ini penulis merasa perlu untuk menulis tentang tema “kepemimpinan dan kebudayaan” untuk memberi perspektif baru terhadap dinamika dan perkembangan kebudayaan serta kepemimpinan dalam konteks kepemimpinan gereja dan masyarakat. Hal ini bagi penulis perlu mendapat perhatian yang serius, bukan saja pada tataran wacana, namun juga dalam implementasi atau teknis operasionalnya.

Dengan menyajikan tulisan ini, penulis bermaksud untuk mencapai dua tujuan;

  • pertama: menumbuhkan kesadaran atau setidaknya mengingatkan pentingnya kepemimpinan dalam gereja dan masyarakat sebagai tuntutan perubahan jaman serta perubahan kultur kebudayaan akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Kedua : menumbuhkan kesadaran bahwa salah satu tantangan gereja saat ini adalah perubahan kultur kebudayaan yang akan ikut mempengaruhi pola kepemimpinan dan pengelolaan pelayanan karena menyangkut dimensi psikososial, yakni karakter / kepribadian jemaat/masyarakat serta para pemimpin dan kehidupan sosialnya, dan dimensi spiritual, teristimewa keyakinan akan campur tangan Allah dalam kehidupan pemimpin dan pelayanannya.

Kiranya tulisan ini berguna bagi teman-teman ‘sepelayanan dan seperjalanan’ sekaligus menjadi berkat bagi para pembaca setia news letter Klasis Semau.

 

Acuan Dasar Pengembangan Kepemimpinan

Munculnya kepemimpinan sebagai jawaban atas tututan dinamika kehidupan dalam komunitas sosial tidak terjadi ditengah proses perkembangan peradaban manusia, melainkan semenjak awal kehidupan manusia ketika diciptakan, bahwasannya manusia diciptakan sebagai makluk ‘budaya’ yang ‘terpimpin’. Berkaitan dengan ini, ada beberapa hal yang hendak penulis paparkann berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan dan kebudayaan.

 

  1. Amanat Kebudayaan dan Dasar Dinamika Kepemimpinan

Manusia diciptakan sebagai makluk budaya. Artinya aktifitas berbudaya adalah subtansi dari hakekat dari manusia itu sendiri. Manusia bukan lagi manusia(hilang kemanusiaannya) jika tidak berbudaya. Sebutan tidak beradab(berbudaya) dapat dilontarkan pada orang yang dianggap telah bertindak diluar batas-batas nilai kemanusiaannya.

Rujukan Alkitab yang paling utama untuk mendasarkan ajaran tentang kebudayaan manusia ialah Kejadian, 1:26-28 yang terkenal dengan sebutan amanat kebudayaan. Ada yang menyebutnya amanat pembangunan.

“Berfirmanlah Allah; Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan—ikan dilaut dan burung-burung di udara dan  atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas biinatang melata yang merayap di bumi. Allah memberkati mereka, lalu berfirman kepada mereka; Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Kata kunci yang menyingkapkan gagasan dasar tentang kehidupan berbudaya adalah ‘taklukanlah’. Laird Harris menjelaskan bahwa dalam istilah taklukanlah terkandung pengertian pelimpahan tanggung-jawab kepada manusia untuk menaklukan, menundukan dalam arti mengusahakan dan mengelola atau mengeksplorasi bumi dan seisinya, bukan merusak atau mengeksploitasi. Dari pelaksanaan amanat kebudayaan itulah kemudian lahirlah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan seni yang pengembangannya merupakan tugas dan tanggung-jawab manusia.

Kemampuan berbudaya adalah potensi yang Tuhan anugerahkan hanya kepada manusia dan tidak ada pada makluk lain. Lotnatigor Sihombing menyimpulkan bahwa manusia diciptakan bukan untuk berdiam diri/malas. Bekerja dengan memanfaatkan dan mengembangkan segenap potensi yanng tersedia merupakan bagian dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

Dalam konteks inilah harus diletakan pemahaman tentang kepemimpinan. Baik itu kepemimpinan dalam gereja maupun kepemimpinan dalam masyarakat. Bahwa dalam dalam rangka pelaksanaan amanat kebudyaan dengan sendirinya tercipta dinamika kehidupan bersama yang menuntut pengaturan aktifitas demi ketertiban antar sesama dan ciptaan lain dalam mencapai tujuan bersama. Dengan begitu peran kepemimpinan akan muncul sebagai konsekwensi logis dari dinamika kehidupan berbudaya.

Penting untuk dicatat, kendatipun manusia telah jatuh dalam dosa, sehuingga berdampak pada proses dan produk kebudayaan yang tidak lagi mengabdi kepada Allah, bahkan menentang Allah, namun bukan berarti perkembangan kebudayaan terlepas dari tanggung-jawab kepada Allah. Disini tugas utama kepemimpinan dalam gereja bukan sekedar memberi warna kristiani, tetapi juga mengembalikan arah kebudayaan berbalik kepada tujuan utama yakni memuliakan Tuhan.

 

  1. Perkembangan Jaman; Tantangan dan Pengembangan Kepemimpinan dan Kebudayaan

Kebudayaan bersifat dinamis. Dalam kebudayaan manusia mengaktualisaikan dirinya, semakin maju dan berkembang dari waktu ke waktu menuju pola dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Sejalan dengann itu kebudayaan memiliki karakteristik historis, artinya tiap fase sejarah kehidupan manusia memiliki kekhususan dalam hal proses dan produk budaya. Ada jaman batu, disusul jaman besi, dan sekarang jaman mesin. Ada era agraris, ada era industri dan hingga sekarang kemajuan ilmu penetahuan menghantar kita tiba pada era informasi elektronik(digital information) yang menuntut orang tidak hanya hidup dengan hal-hal yang bersifat teoritis saja tetapi juga dengan keterampilan yangg memadai. Lotnatigor Sihombing melihat adanya unsur penyempurnaan dalam setiap perkembangan kebudayaan;

“Kebudayaan dari waktu ke waktu, masa ke masa terus berkembang di dalam sejaranya. Semua kebudayaan bersifat historis, yang menunjukan adanya sejarah kebudayaan, dimana perubahan kebudayaan tersebut bisa berarti penyempurnaan dari unsur-unsur yang belum sempurna, diubah menjadi semakin sempurna.”(L. Sihombing;1983)

Perubahan sebagai konsekwensi dari perkembangan kebudayaan merupakan kenyataan yang tidak bisa ditolak kehadirannya, sehingga mau tidak mau dibutuhkan sikap dan tindakan antisipatif, selektif dari setiap pemimpin. Tetapi apa yang terjadi dilapangan ialah bahwa sering kali tindakan yang diambil pemimpin meleset dari yang direncanakan, karena pemimpin kewalahan/kedodoran dalam mengikuti arus perubahan yang bergerak cepat. Sehingga perubahan dilihat sebagai momok  dari pada peluang untuk sebuah kemajuan.

Alfin Toffler berpendapat bahwa fakta yang mengganggu pikiran adalah bahwa ada begitu banyak orang, termasuk para pemimpin, ide perubahan sangat mengancam sehingga kadang kala tidak dikehendaki dan diakui kehadirannya. Akibatnya tidak ada sikap tanggap terhadap fenomena sosial, ekonomi dan politik sehingga terjadi keterkejutan dan timbul kesenjangan antara perencanaan hidup dan kenyataan hidup.

Menjelang dekade 1990-an, banyak ahli telah memprediksi suatu perubahan besar secara global dalam kebudayaan manusia. Mereka melihat dekade 1990-an sebagai dasa warsa yang amat krusial dalam sejarah peradaban, yaitu sebagai suatu periode inovasi teknologi yang sangat menganggumkan, terbukanya peluang ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya, mencuatnya reformasi politik yang mengguncang dan lahirnya kultur yang besar. Namun disisi lain, inovasi global itu juga dibarengi/berdampak pada degradasi secara moral. Manusia diperbudak oleh waktu dan kerja serta teknologi informasi, sikap individualismenya lebih mengemuka dan cenderung menghambat kehidupan sosialnya dengan sesama karena kepekaannya terhadap lingkungan disekitar menjadi rendah. Orang bisa hidup bersama di sebuah tempat tetapi bisa saja tidak saling mengenal dengan baik karena sikap ketergantungan terhadap teknologi makin tinggi. Lihat saja di terminal bus, air port, kereta api, dermaga, kampus, rumah sakit termasuk kegiatan gereja sekalipun,  orang sudah jarang bisa bersosialisasi dengan sesama yang ada di sekitar karena masing-masing sibuk dengan hand phonenya. Pada titik ini gereja tidak hanya pasrah dan  berkata ‘apa boleh buat’ tetapi mestinya gereja harus bertanya pada dirinya ‘apa yang harus dibuat?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *