HAGAR DAN PUTRI-PUTRINYA

Artikel Featured Block

HAGAR DAN PUTRI-PUTRINYA SERTA IMPLIKASINYA BAGI PENDAMPINGAN PASTORAL

UNTUK KORBAN PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

(Tanggapan Atas buku Hagar dan Putri-Putrinya: Perempuan Tertindas dalam Alkitab)

Oleh: Pdt. Benjamin Nara Lulu, M.Th

 

Pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menanggapi buku Hagar dan Putri-Putrinya, karya Pdt. Dr. E. I. Nuban Timo yang adalah seorang penulis muda produktif, teolog muda GMIT, seorang ketua Majelis Sinode GMIT yang sering menampilkan banyak tulisannya tetapi juga senior saya sewaktu kuliah S1 dulu. Dari beliaulah saya secara khusus berminat untuk mendalami kitab-kitab Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani. Dengan status demikian, maka agak sulit bagi saya untuk menanggapi sebuah tulisan dari seorang pakar dan seorang “guru” yang justru daripadanya saya belajar dan menimba banyak hal. Saya bingung untuk menanggapinya. Mau menanggapi dari mana dan menanggapi apanya. Jangan-jangan, tanggapan saya membuat hal yang sudah jelas malah menjadi kabur.

Walau pun demikian, atas penghargaan yang diberikan kepada saya, maka dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan saya memberanikan diri untuk memberikan catatan-catatan lepas atas karya agung ini. Ini juga sebagai tanda terima kasih dan penghargaan saya kepada “kak Eben” yang selalu membimbing kami melalui berbagai karyanya yang tiada duanya. Tanggapan yang akan saya berikan hanya berupa catatan lepas, karena saya tidak memilih seluruh bagian buku ini untuk ditanggapi tetapi saya memilih bagian-bagian tertentu yang saya rasa sangat relevan untuk situasi kita sekarang.

 

Pertama, Buku ini adalah sebuah buku yang unik, bukan saja karena gaya bahasanya yang hidup dan segar sehingga bagi yang membacakannya tidak akan merasa bosan[3]. Tetapi juga di dalam menuturkan setiap kisah, kendati dalam bentuk sebuah cerpen[4] atau novel (novel rohani), buku ini bukanlah sebuah dongeng atau sebuah hasil rekaan dan imajinasi belaka. Penulis justru menuturkan dalam bentuk narasi yang hidup tentang sebuah fakta sejarah sambil mengisinya dengan latar belakang budaya yang tidak “tersurat” dalam Alkitab yang mengisahkan cerita tentang para perempuan yang menjadi perhatian dalam buku ini. Penulis adalah seorang yang mampu mengisi “gap filling” yakni kesenjangan-kesenjangan yang dituturkan para penulis Alkitab. Sebab dalam teks Alkitab hanya memperlihatkan “apa” yang dialami dan dilakukan oleh kaum perempuan — yang dalam istilah penulis Hagar dan Putri-Putrinya sebagai perempuan tertindas dalam Alkitab  — tanpa menunjukkan mengapa begitu. Misalnya dalam Alkitab hanya menyebutkan bahwa istri Lot menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang. Tetapi tidak memberitahukan kenapa ia menoleh ke belakang: apakah karena ingat harta seperti dalam lagu anak sekolah Minggu. Atau mengapa. Penulis telah mengisi, gap atau lubang-lubang tersebut, dengan menampilkan “Anak Perempuan Lot” (hal.44-49). Untuk mengisi “gap filling” ini tidak mudah. Ini membutuhkan pengetahuan yang luas tentang  “Dunia Sekitar Alkitab”. Dan membutuhkan sebuah penafsiran atau hermeneutik yang baru. Tidak dapat hanya mengandalkan satu bentuk hermeneutik. Dalam dan melalui buku ini terpatri dengan jelas sebuah pendekatan hermeneutik yakni Metode Intertekstual Hermeneutik. Melalui pendekatan ini, penulis telah mengungkapkan banyak hal yang masih “tersembunyi” dari setiap teks. Penulis mampu mendramatisir kembali kisah cinta kuno yang hampir terlupakan menjadi sebuah kisah yang hidup dalam dunia kita; kisah yang penuh intrik dan romantis seperti dalam Film James Bond (007) tetapi juga menjadi kisah kehidupan anak cucu Hagar sekarang ini. Kisah yang sangat menegangkan dan menyakitkan. Ada cinta tetapi diwarnai dengan kekerasan dan penindasan. Ada kebersamaan tetapi dibumbui dengan ketidak-cocokan dan saling membenci bahkan saling sikut-menyikut dan saling menyingkirkan.

 

Kedua, Buku ini juga bagi saya merupakan sebuah Khotbah yang mengandung pesan yang syarat makna untuk pergolakan hidup zaman sekarang ini. Sebuah khotbah yang mengandung pesan pengharapan bagi mereka yang sementara ditindas dan menjadi korban kekerasan dengan berbagai cara dan bentuk. Tetapi memiliki amanat pertobatan kepada setiap pelaku kekerasan dan kejahatan yang tidak menghargai harkat dan martabat manusia sebagai gambar Allah. Bahkan yang tidak mengakui kesetaraan dan kesederajatan bahwa laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan membutuhkan; saling menopang dan menguatkan. Dari berbagai kisah dalam buku ini, saya akan tampilkan beberapa pesan untuk kita saat yang sangat relevan untuk kita perhatikan.

  1. Pasal 6 dan 7 : Otobiografi Hagar bagian Pertama dan Kedua (hal. 27 – 43). Melalui bagaian ini ada beberapa pesan yang saya tangkap:
    • Perempuan sering dijadikan sebagai alat untuk keberhasilan kaum laki-laki. Hagar dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan keluarga Abraham dan Sara yakni untuk memperoleh anak. Hagar hanya sebagai “incubator” penyimpan anak. Rahimnya hanya sebagai tujuan agar bisa memperoleh “anak perjanjian” bukan sebagai tempat pertemuan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Banyak keluarga atau khususnya laki-laki yang juga melihat istri hanya sebagai “produsen” yang menghasilkan anak baginya. Karena alasan untuk mendapatkan anak laki-laki atau anak perempuan, istri dipaksa terus untuk hamil dan melahirkan tanpa memperhatikan kesehatan dan kebutuhan anak yang akan dilahirkan dalam keluarga tersebut.
    • Dalam menghadapi mereka yang menjadi korban penindasan dan kekerasan, maka perlu pendekatan dialogis (bnd. Hal. 34). Pendekatan yang dimulai dengan mencari tahu dan memahami perasaan korban dan jangan cepat-cepat memberikan penghiburan ‘semu’ sebagai jalan keluar tanpa terlebih dahulu mengetahu apa pergumulan korban.
    • Kaum penindas itu bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan (bnd. Sara). Jadi setiap orang memiliki potensi untuk menindas sesamanya baik laki-laki maupun perempuan. Penindasan dan kekerasan bisa terjadi ketika seseorang memiliki kuasa lebih daripada sesamanya (bnd. Perlakuan Sara karena memiliki kuasa sebagai nyonya, menindas Hagar sebagai hambanya). Karena itu adalah tidak adil jika kita mengatakan bahwa hanya laki-laki yang menindas perempuan tetapi juga perempuan menindas perempuan sebagai sesama kaumnya bahkan perempuan juga menindas laki-laki sehingga sekarang ada banyak suami yang takut istri. Karena alasan ekonomi yakni istri yang mencari makan atau gaji istri lebih tinggi maka banyak istri yang merasa lebih berkuasa dari suaminya. Atau istri bisa menindas suami karena alasan budaya yakni karena istri berasal dari golongan bangsawan dan suami dari golongan hamba.
    • Pasal 8 : Anak Perempuan Lot Mengenang Ibunya (hal. 44 – 49). Melalui kisah ini ada beberapa pesan:
  2. Kritik terhadap metode penginjilan. Penginjilan bukan hanya dengan kata-kata atau hanya melalui khotbah tetapi juga melalui perbuatan kasih yang nyata. Injil yang nyata adalah tidak sekedar melalui kata-kata tetapi melalui perbuatan nyata yakni memiliki rasa kepedulian atau solider dengan sesama. Istri Lot bukan karena mengingat harta sehingga dia menoleh ke belakang tetapi karena dia mengingat para penduduk Sodom dan Gomora yang selalu dicap tidak bertuhan tetapi justru yang telah menunjukkan kasih yang nyata.
  3. Penginjilan bukan lagi hanya sekedar mentobatkan orang lain yang masih dicap kafir. Tetapi bagaimana menghargai mereka sebagai manusia yang juga memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang juga sudah mempraktekkan Injil. Bagaimana secara bersama-sama mewujudkan damai sejahtera di tengah masyarakat dimana mereka hidup bersama. Menarik dari kisah ini bahwa: alasan para penduduk Sodom mendesak Lot untuk membawa dua orang asing bukan karena nafsu sodomi mereka seperti yang sering dikhotbahkan tetapi tanggapan mereka atas cap kafir yang diberikan oleh dua utusan Tuhan yang menumpang di rumah Lot (bnd.
  4. Jangan jadikan alasan pelayanan kemudian mengabaikan hak-hak keluarga atau anggota keluarga sehingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Atau memakai alasan kebutuhan keluarga kemudian mengabaikan hak-hak jemaat dimana banyaknya pendeta Weekend. Sehingga tidak lagi membina jemaat tentang hak-haknya, tidak lagi menyelesaikan berbagai kekerasan yang terjadi sehingga gereja tidak lagi dilihat sebagai tempat nyaman untuk mereka bisa memperoleh perlindungan.

1.5 Pasal 9: Dina, Putri Yakub: Di Israel namanya Anonim (hal. 50 -60).  Bagian ini merupakan kritik atas perlakuan yang bias gender dalam   keluarga. Perlakuan Yakob yang mengabaikan Dina dan menganggapnya  cukup berada di dalam rumah dan hanya anak laki-laki di luar rumah adalah sebuah kekerasan yang mengabaikan hak Dina sebagai anak  perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama sehingga tidak ada anak emas dan tidak ada anak perak atau perunggu.

 

Ketiga, dari segi metodologi, saya setuju dengan penulis yang mendekati teks Perjanjian Lama yakni pendekatan Intertekstual Hermeneutik atau pendekatan dengan memakai Kacamata Baru. Saya setuju akan pendekatan ini karena ada pendekatan lain yang justru mengabaikan pesan teks. Kedua pendekatan dimaksud adalah: penafsiran tradisional dan penafsiran feminis. Beberapa penafsir tradisional menguitp bagian-bagian PL yang tidak membatasi identitas perempuan tetapi melalui penafsiran yang sarat dengan pandangan patriakhat. Para penafsir tradisional tersebut biasanya menafsirkan dan menyimpulkan bahwa status perempuan lebih rendah dari laki-laki.[5]  John Calvin, misalnya mengutip Kej 1:26, menafsirkan kata man dan them pada ayat ini sebagai ‘laki-laki’ dan ‘laki-laki serta keturunannya yang laki-laki’. Calvin kemudian menjelaskan bahwa yang diciptakan sebagai gambar Allah hanyalah laki-laki dan bukan perempuan. Ia juga mengutip Kej 2: 16, dan menafsirkan kata ‘a helper’ (seorang penolong) dan mengenakan kepada perempuan sebagai yang memiliki “status kelas dua” serta menarik kesimpulan bahwa perempuan memang lebih rendah dari laki-laki; perempuan berasal dari  dan untuk laki-laki, sepanjang waktu bahkan untuk kekekalan statusnya lebih rendah daripada laki-laki. Demikian pula di dalam mengutip bagian PL yang membicarakan status Perempuan yang Refleksif sebagaimana sudah digambarkan sebelumnya, menyimpulkan bahwa status perempuan dalam PL sangat rendah.[6]

Sementara itu, para penafsir feminis melakukan yang sebaliknya. Untuk memperlihatkan status perempuan yang sama tinggi dengan laki-laki, mereka hanya mengutip bagian PL yang tidak membatasi status, identitas, hak dan kebebasan perempuan, seperti Kej. 1:26. Para penafsir feminis ini kemudian menyimpulkan bahwa perempuan dalam PL juga segambar dengan Allah dan berstatus sama dengan laki-laki. Lebih jauh mereka menafsirkan bagian PL  secara metaforis sedemikian rupa, kalau perlu bagian itu dianalisis  dan direvisi sesuai kemauan mereka sendiri. Misalnya mereka mengutip kitab Kidung Agung. Para penafsir feminis radikal ini, lalu menjelaskan Kitab Kidung Agung sebagai lambang keintiman dan kesederajatan laki-laki dan perempuan. Karena itu bagi mereka, proses kanonisasi PL yang ada sekarang perlu diulang karena PL yang ada sekarang mengandung suara yang terlalu patriarkhat.[7]

Menurut saya, kedua pendekatan di atas sangat subyektif dan tidak representatif bagi PL, sehingga kedua pendekatan ini pasti menghasilkan gambaran yang tidak obyektif  secara alkitabiah. Kedua pendekatan itu juga telah melalaikan prinsip-prinsip dasar hermeneutika seperti analisis teks dan analisis historis. Saya sependapat dengan penulis dan dengan Sinulingga, yang mengusulkan bahwa untuk mendekati dan memahami status perempuan yang embialen dalam PL, maka metode penafsiran yang bisa dilakukan adalah “hermeneutik feminis”, alkitabiah dan struktural. Hermenutika ini disebut feminis karena ia diawali dan diakhiri dengan pengalaman-pengalaman perempuan sendiri. Pengalaman perempuan itu berbentuk “kesadaran kritis yang feminis”, seperti kesadaran akan kenyataan sistem sosial masa kini yang sering memperlakukan perempuan dengan tidak adil, adanya budaya patriarkat yang melatarbelakangi banyak bagian PL yang tidak saja berbicara negatif tetapi juga positif, dan adanya penafsiran tradisional dan feminis yang tidak obyektif terhadap ayat-ayat PL yang berbicara secara positif dan negatif. Kesadaran kritis feminis inilah yang perlu diperhadapmukakan dengan bagian-bagian PL yang akan ditafsirkan. Kesadaran ini diharapkan membuat seseorang waspada  bahkan memandunya ke dalam keseluruhan tindakan penafsiran yang dilakukan sehingga ia tidak terjebak dalam kemungkinan perendahan status perempuan yang tidak obyektif dalam penafsiran tersebut. Tetapi kesadaran kritis feminis yang sama harus bersedia pula diperhadapmukakan dengan hasil penafsiran yang alkitabiah dan obyektif. Baik itu hasilnya meninggikan  ataukah merendahkan status perempuan. Metode hermeneutika ini juga disebut hermeneutika yang alkitabiah dan struktural. Disebut demikian karena metode ini mencari makna teologis dan etis sebuah teks sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengarang dalam konteksnya (melalui analisis teks dan analisis historis).[8]

Keempat, sehubungan dengan poin ketiga di atas, maka kita juga perlu memahami bagaimana pemahaman Perjanjian Lama tentang status perempuan sehingga kita tidak berat sebelah dan tidak adil, seolah-olah Perjanjian Lama sama sekali tidak menghargai harkat dan martabat manusia, sebagai yang sama derajad dengan laki-laki. Tentu saja kita tidak menutup mata atas kenyataan seperti yang sudah digambarkan oleh penulis melalui buku yang kita bedah saat ini. Tetapi kita juga perlu secara obyektif menilai dan memahami bagaimana dan mengapa muncul sikap dan adanya diskriminasi terhadap perempuan dalam hal ini kepada Hagar dan Putri-Putrinya, sebagaimana judul buku ini. Dalam menggambarkan status perempuan dalam PL, secara umum, para ahli membaginya dalam 3 bagian yakni[9]:

  1. Status Perempuan yang Ideal. Gambar yang ideal memperlihatakan bahwa perempuan berstatus sederajad dengan laki-laki. Keduanya adalah mitra dalam masyarakat, karena keduanya “segambar dengan Allah”, sehingga keduanya diberi kesempatan, kewajiban, kebebasan dan hak yang sama untuk menyelidiki, mengerti, mengolah, memanfaatkan dan menguasai bumi dengan mengembangkan segala jenis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraam lahiriah dan batiniah manusia. Keduanya sama-sama diberi kebebasan dan kuasa untuk beridentitas dalam masyarakat (Kej.1: 26-28). Gambar yang rinci tentang kesempatan bagi perempuan untuk berperan dalam masyarakat diberikan misalnya dalam Amsal 31: 10-31. Perempuan bijaksana dalam perikop ini tidak saja sebagai istri yang setia kepada suami/melayani suami, tetapi juga pemimpin yang bijaksana bagi anggota masyarakat yang dipimpinnya dan sebagai pejuang bagi anggota masyarakat lain yang lemah dan miskin di sekitarnya. Bagian lain yang juga secara ideal menggambarkan status kesederajadan perempuan dan laki-laki adalah Kej. 2: 18-25. Perempuan adalah “penolong” yang melengkapi suaminya. Posisi perempuan sebagai penolong tidak menunjuk kepada otoritas, kebebasan ataupun haknya yang lebih rendah. Status perempuan sebagai penolong dalam bagian ini, bukanlah kehendak manusiawi belaka melainkan kehendak ilahi. Laki-laki belum sempurna tanpa kehadiran seorang perempuan atau orang lain di luar dirinya. Karena itu, gambaran tentang laki-laki yang berstatus lebih tinggi dan yang berkuasa atas perempuan adalah gambaran yang tidak ideal atau menyimpang dari maksud ideal ilahi sejak awal. Dengan demikian, status ideal inilah mestinya yang harus diperjuangkan sebagai pola kesejajaran/kesederajatan antara perempuan dan kaki-laki. Bukan saja pada zaman dahulu tetapi juga masa kini, bukan hanya oleh perempuan tetapi oleh semua orang beriman termasuk laki-laki.
  2. Status Perempuan yang Refleksif. Gambaran ideal tentang status perempuan sebagaimana telah disebutkan di atas, ternyata tidak bisa dilaksanakan oleh masyarakat Israel yang sangat dipengaruhi sistem patriarkat. Olah sebab itu, pada umumnya cerita-cerita dan berbagai undang-undang dalam PL, merefleksikan ketidakmampuan dimaksud. Identitas perempuan yang ditonjolkan sebagai yang layak adalah sebagai istri dan ibu.[10]   Dalam ibadah, perempuan  tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Pada hari-hari tertentu dia dianggap najis sehingga tidak boleh beribadah. Pada tiga jenis hari raya (Roti Tidak Beragi, Tujuh Minggu dan Pondok Daun), perempuan  tidak hadir/tidak mengambil bagian dalam ibadah  dan tidak bisa menjadi imam (Im. 12-17; Ul. 16:16; Im. 21:9; 22: 10-14). Hak dan kebebasannya sangat dibatasi melalui perkawinan poligami, perceraian, pelanggaran seksual dan pembagian warisan keluarga.[11] Dengan demikian, berbagai cerita dan undang-undang dalam PL yang merendahkan status perempuan, yang merupakan refleksi dari masyarakat yang patriarkat, tidak boleh dijadikan pola anutan dan juga tidak boleh dibuang sebagaimana dilakukan para kaum feminist radikal.
  3. Status Perempuan yang Insidentil. Sebagaimana telah disebutkan di atas, banyak teks dalam PL yang merefleksikan status perempuan yang lebih rendah dari laki-laki. Tetapi kadang-kadang cerita-cerita PL memperlihatkan gambaran tentang status perempuan yang sama, bahkan lebih tinggi dari laki-laki. Status demikian, bersifat insidentil, dalam pengertian hanya terjadi dalam situasi historis khusus, dalam kebutuhan dan kemampuan khusus. Misalnya dalam Hak. 4: 4-16, Debora dihadirkan sebagai perempuan yang berstatus sangat tinggi dalam situasi historis khusus dengan latar belakang masa sebelum Kerajaan. Contoh lain adalah perempuan yang berperan sebagai penasihat raja dalam 2 Sam 14, atau dalam 1 Sam 25 seorang istri lebih berhikmat karena kemampuannya yang khusus melebihi suaminya yang bebal. Teks-teks ini memperlihat-kan bahwa dalam masyarakat yang sangat patriarkat pun, berdasarkan situasi historis, kebutuhan dan kemampuan yang khusus, ada peluang bagi perempuan untuk berstatus lebih tinggi daripada laki-laki.

Kelima, sebagai catatan penutup, saya setuju dengan pokok-pokok pikiran yang ditawarkan penulis bagian ketiga buku ini. Karena itu saya dapat mengatakan bahwa buku ini sangat cocok untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap kita yang memiliki peran dan tugas untuk mewujudkan kesetaraan gender sekaligus untuk meminimalisir berbagai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga atau masyarakat. Namun, apabila tujuan buku ini untuk disajikan dan dipersembahkan kepada seluruh masyarakat atau jemaat awam, maka perlu pendampingan. Sebab buku ini mengungkapkan secara vulgar dan sangat berani tentang kenyataan yang sesungguhnya dalam Alkitab. Apa lagi dalam semua paparannya, penulis menampilkan diri sebagai sosok yang sangat pluralis dan inklusif dan memiliki keberpihakan kepada mereka yang terabaikan atau yang sering terpinggirkan yakni kaum perempuan. Dalam kehidupan jemaat yang sudah terpola dengan paham tradisionil melalui prinsip: salus extra ecclesia non est “diluar gereja tidak ada keselamatan”. Atau melalui prinsip: “Sola Scriptura” yang memandang apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya sebab beritanya adalah wahyu Tuhan yang diberikan kepada manusia. Maka pernyataan penulis di dalam buku ini bisa membingungkan anggota jemaat, antara lain:

  1. Cerita-cerita dalam Alkitab umumnya adalah kisah sekular biasa yang diberi muatan religius. Kehadiran muatan religius ini membuat cerita-cerita sekular tadi berubah fungsi menjadi cerita Allah, cerita yang kudus….” (hal. 17)
  2. Penulis juga menggugat keselamatan yang bersifat Israel sentris dan gereja sentris. “Benar bahwa Allah memilih Isarel, dan kemudian gereja … Tetapi, sambil menggunakan Israel dan gereja di tangan kananNya, tangan kiri Allah juga bekerja.… Bukan hanya untuk mengitensifkan pemberitaan tentang keselamatan kepada dunia dan bangsa-bangsa, melainkan juga untuk menyelamatkan Israel dan Gereja.  Bagi Allah gereja bukan subyek teologi dan umat beragama lain  obyek misiologi, melainkan gereja dan umat beragama lain adalah anak-anak Allah. Allah mengasihi dan memakai  mereka secara unik dalam karya keselamatan”. (Hal. 155-156)
  3. Jemaat telah memahami bahwa didalam karya dan pelayanan Yesus, tindakan penyelamatan Allah sudah final dan sempurna. Tetapi dalam hal 163 buku ini, penulis buku ini menulis: “ …. Tantangan tadi juga mengingatkan gereja untuk tidak menganggap penyataan Allah dalam Yesus Kristus sebagai peristiwa yang sudah selesai. Yesus Kristus adalah penyataan final dari Allah. Tidak ada penyataan lain yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari yang terjadi di dalam Dia. Tetapi ini tidak berarti penyataan Alah di dalam Kristus sudah selesai”.

Demikianlah beberapa catatan lepas yang dapat saya buat untuk menanggapi sebuah karya agung dari pemimpin, guru dan senior saya saat ini.  Mari kita berdiskusi atau mendengar langsung penjelasan lanjutan beliau sebab apa yang tertulis dalam buku ini belum seluruhnya mewakili pikiran dan pemahaman beliau. Masih banyak hal tersembunyi yang perlu diuangkapkan untuk kita pahami bersama. Tuhan memberkati kita sekalian. Syalom!

 

 

 

 

 

 

 

[1] Materi disiapkan dalam rangka acara bedah buku karya Pdt. Dr. E.I. Nuban Timo (Hagar dan Putri-Putrinya) yang diselenggarakan oleh MS GMIT (Komisi Ham dan Advokasi) bekerjasama dengan American Friend Service Commite (AFSC) Indonesia, di Gedung Kebaktian Jemaat Efata SoE, Jumat: 18 Februari 2011.

[2]  Pemateri adalah Pendeta GMIT yang melayani di Jemaat GMIT Efata SoE.

[3]  Kalau tidak percaya, bagi bapak, ibu yang belum memiliki buku ini silahkan membelinya dan membuktikannya. Maaf, ini bukan untuk mempromosikannya. Kalau tidak membeli pasti akan rugi.

[4]  Inilah pengakuan penulis

[5] Lih. A. Thompson, “Woman as the Image of God according John Calvin” , Harard Theological Review 18, 1960, 18.

[6] A. Philips, “Some Aspects of Familiy Law in Pre-Exikic Israel”, Vetus Testamentum XXIII/3, Leiden: E.J.Brill, 1973, 350-351.

[7]  C. Scanton, The Wowan’s Bible, New York: Arno, 1895, 12.

[8] Bagian-bagian repsentatif tentang status perempuan dalam PL, dapat dilihat pada cerita penciptaan (Kej 1-3), Undang-undang Pentateukh, dalam kitab Sejarah dan materi pendidikan dalam Amsal. Sebab dari bagian-bagian itulah kita mendapati tiga status perempuan sebagaimana telah disejelaskan sebelumnya.

[9] Bnd. Risnawaty Sinulingga “Status Perempuan dalam Perjanjian Lama”, Forum Biblika No. 10, 1999), 15ff.

[10]  Bnd. 1 Sam 18:20-27; 1 Raj.3:1; 2 Raj.8:18; Hak. 14; 1 Sam, 22: 3-4; 1 Raj 3: 16-27; Kel. 20:16; Ul. 5:21; Kel. 20:12; Ul. 21: 10-21 dstnya.

[11]  Kel. 21: 7-11; 29: 30-31; 1 Sam. 1: 6; 2 Sam. 13:13; 2 Eaj. 4: 18-25; Ul. 24: 1-4; Kel. 20: 14; Ul. 21: 10-17; Kel. 22:22; Bil. 27: 1-12 dstnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *