HUBUNGAN GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA

Artikel Featured Block

HUBUNGAN GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA

Oleh : Pdt. Benjamin Nara Lulu, M.Th

  1. Pertama-tama saya berterima kasih kepada panitia  yang telah mengundang saya  untuk membawakan materi sebagaimana judul di atas. Sebab melalui kegiatan ini, kita dapat bertemu dan saling membagi pengalaman sehingga saling menguatkan di antara sesama umat Tuhan. Bersamaan dengan ucapan terima kasih ini, saya juga meminta maaf karena judul yang saya siapkan tidak sama dengan judul yang dimintakan Panitia yakni: Peranan Persekutuan Doa (PD) dalam Pelayanan Gereja (GMIT) dan Administrasi/ organisasi Persekutuan Doa. Saya memilih judul demikian karena lebih mengungkapkan kenyataan yang sementara dihadapi oleh kedua unsur ini yakni Gereja dan Persekutuan Doa, dimana melaluinya juga akan terungkap apa peran Persekutuan dalam pelayanan Gereja (GMIT) dan bagaimana seharusnya dia mengorganisasikan dirinya secara administratif di dalam menunjang pelayanan gereja. Dengan demikian, walaupun judul tidak sama persis tetapi saya akan berusaha untuk membahas apa yang menjadi harapan panitia.
  2. Hubungan Gereja dan Persekutuan Doa bagi saya adalah suatu yang menarik karena ini menjadi pergumulan Gereja (GMIT) sejak PD hadir dan melayani di GMIT. Pergumulan yang sering terjadi adalah munculnya pro dan kontra terhadap pelayanan Persekutuan Doa. Artinya ada Jemaat atau pemimpin jemaat (anggota jemaat) yang menerima kehadiran PD[3] tetapi ada juga yang jelas-jelas menolaknya (alergi terhadap PD). Bagi yang menerima, maka PD menjadi bagian dari pelayanan jemaat dan memiliki peran yang sangat penting. Sebaliknya, bagi yang menolak, PD dianggap menjadi  saingan atau sering saling mempersalahkan di antara keduanya. Terhadap pro dan kontra ini maka pertanyaan yang patut mendapat kajian untuk dibahas secara khusus pada kesempatan ini adalah: bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap PD, apa hakekat hubungan Gereja (GMIT) dengan Persekutuan Doa?
  3. Sebelum kita membahas lebih lanjut tetang bagaimana seharusnya hubungan antara Gereja dengan PD, maka ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian kita.

Pertama: Gereja atau jemaat adalah persekutuan orang percaya yang bertekun dalam doa (Kis.2:41); persekutuan hamba Tuhan yang berdoa dan memberitakan Firman Tuhan (Kis. 4:29); persekutuan yang sehati, sejiwa, sepemilikan yang berkumpul bagaikan satu keluarga (Kis. 4: 32-36); persekutuan milik Kristus (1 Kor. 3: 23). Semua anggota jemaat `adalah tubuh Kristus dan setiap orang adalah anggota dari tubuh Kristus (1 Kor.12: 27). Semua anggota terikat dengan tubuh (jemaat) dan karena itu juga yang satu terikat dengan yang lainnya. Melepaskan diri dengan sadar dari tubuh (jemaat) dan dari Kristus (Kepala) adalah hal yang tidak wajar. Sebab tindakan demikian adalah ibarat, ranting yang mau berbuah tetapi melepaskan diri dari cabangnya, maka lambat ataucepat dia akan layu, kering dan mati. (bnd. Yoh. 15: 5-6).

Kedua, Berdoa atau umur doa sebenarnya sama tua umurnya dengan umur gereja. Dan perlu pula diingat bahwa Gereja atau jemaat adalah persekutuan yang berdoa (tidak sama dengan: persekutuan doa). Anggota gereja baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan merupakan anggota gereja yang berdoa. Seperti Paduan Suara, VG, Pelayanan Pemuda, PAR, Perempuan dan Persekutuan Doa adalah satuan/unit pelayanan bentukan manusia yakni pernyataan dari kesamaan kehendak untuk menanggapi atau menjawab anugerah Allah, dan melayani Dia dan sesama dengan karunia-karunia yang diberikan Allah.

  1. Berdasarkan dua hal yang disebutkan dalam poin 3 di atas, maka Persekutuan Doa mempunyai ikatan atau hubungan dengan gereja dan menjadi bagian dari gereja seperti unit-unit pelayanan lainnya dalam jemaat. Hakekat, keberadaan dan lembaga Persekutuan Doa berbeda dari Gereja. Karena itu Persekutuan Doa tidak menggantikan gereja dan tidak pernah akan menjadi gereja. Gereja lebih luas dari persekutuan doa, sebab ia mencakup semua orang percaya yakni persekutuan yang percaya kepada Yesus Kristus. PD bisa saja menjadi ”gereja tiruan” dalam arti menampakkan berbagai aspek pelayanan dalam Gereja (persekutuan, kesaksian, ibadah, pelayanan kasih dan penatalayanan) tetapi dia tidak akan pernah menjadi gereja atau menggantikan gereja. Seperti PS, VG dan kelompok fungsional lainnya yang bisa terbentuk dan bisa bubar, PD pun demikian, tetapi gereja atau jemaat akan tetap abadi melintasi segala zaman. Gereja akan tetap hidup atau bisa hidup tanpa persekutuan doa (dalam arti unit pelayanan) tetapi PD tidak bisa bertahan hidup tanpa gereja. PD akan tetap ada selama dia terikat atau menjadi bagian dari jemaat/gereja. Gereja yang dimaksudkan di sini tentu saja tidak sekedar sebuah lembaga/instituti seperti: Majelis Jemaat, Majelis Sinode tetapi juga sebagai organisme yang percaya kepada Yesus Kristus. Gereja yang demikian digambarkan sebagai Tubuh Kristus atau Rumah Allah, Keluarga Allah.
  2. Jika keduanya (Gereja dan PD) saling terikat dan tidak bisa melepaskan diri, mengapa ada pro dan kontra di dalam relasi pelayanannya?  Dalam pengalaman, terjadinya pro dan kontra seolah-olah tidak ada ikatan diantara keduanya disebabkan karena adanya pemahaman yang berbeda tentang pelayanan yang dilakukan masing-masing pihak, sebagaimana nampak dalam hal berikut:

Pertama, IRT diatur dan dipimpin oleh Majelis Jemaat. Sedangkan PD biasanya dipimpin oleh orang-orang yang bukan MJ. Para pemimpin PD ini biasanya seorang yang memperoleh karunia khusus dari Roh Kudus. Kadang-kadang ada anggapan bahwa pemimpinnya  sudah menerima baptisan atau pengurapan dan jamahan Roh Kudus yang dianggap lebih tinggi nilainya dari baptisan pertobatan. Jadi seolah-olah, Penatua, pendeta, diaken bukan orang yang berkarunia atau tidak mendapat pengurapan Roh. Memang sering kali ada juga anggota MJ yang ambil bagian dalam kegiatan PD. Ia sering dijadikan sebagai penasehat atau pelindung. Peranan mereka cukup disitu. Pemimpin dan pengkhotbah  dalam pertemuan doa itu umumnya orang yang menganggap diri berkarunia (Karunia berkhotbah/berkata-kata).

Kedua, Mereka yang berkumpul dalam IRT adalah warga jemaat biasa. Mereka ini sudah percaya kepada Yesus Kristus, tetapi menurut pemahaman para pemimpin PD, orang-orang itu belum dilahirkan kembali atau belum menerima pengurapan roh atau kepenuhan roh. Karena itu, mereka merupakan orang percaya kelas pemula, orang yang “baru mulai percaya”. Sedangkan mereka yang menjadi anggota PD merupakan orang percaya “kelas elit”. Mereka mempunyai iman yang lebih tinggi tingkatnya dari orang percaya umumnya. Ini karena selain percaya kepada Yesus, mereka sudah memperoleh pengurapan roh. Tandanya ialah kemampuan untuk berbicara dalam bahasa lidah (glosolali). Memang ada juga anggota PD yang belum mendapat pengurapan Roh. Mereka pergi kesana supaya diberi pengurapan. Dan mayoritas anggota PD percaya bahwa “Pengurapan Roh” dapat diperoleh melalui banyak doa dan puasa. Itu sebabnya banyak anggota PD menerapkan disiplin berdoa dan berpuasa yang ketat supaya dapat karunia pengurapan Roh. Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang peka: “Apakah ada perbedaan mutu antara karunia yang satu dengan karunia yang lainnya?” Apakah ada syarat tertentu yang harus dijalankan agar memperoleh pengurapan roh?

Ketiga, IRT biasanya dihadiri hanya oleh warga jemaat dari gereja lokal atau satu denominasi. Dalam PD, jemaat yang hadir berasal dari jemaat atau denominasi lain yang berbeda-beda. PD merupakan unit ekumenis yang sangat kecil. Disitu berkumpul orang percaya dari banyak aliran dan denominasi. Beda antara warga GMIT, Pentakosta, Betel, Katolik sangat tipis dalam PD. Ada pikiran bahwa jika roh bekerja, aturan-aturan, ketetapan dan batasan-batasan yang ditetapkan gereja dan denominasi tertentu tidak berlaku lagi. Roh Kudus tidak memerlukan aturan, hukum-hukum dan tata tertib. Bahkan ada kecenderungan untuk meremehkan sisi organisasi dari Gereja. Ini nampak dalam nyanyian seperti: Ku tak Pandang dari Greja mana, asal kau ….” Ada juga anggota PD yang pergi ke tempat tertentu untuk menginjili. Kalau pemimpin jemaat setempat meminta surat rekomendasi dari jemaat asal, mereka biasanya menjawab: tidak perlu. Roh Kudus itu bebas, Ia meminta kami pergi tanpa persetujuan gereja.

Pertanyaan yang muncul: “Benarkah jika kita katakan bahwa aturan dan hukum-hukum gereja tidak berlaku lagi kalau Roh Kudus berkarya? Apakah benar bahwa RK tidak memerlukan gereja dalam karya pemberitaan?

Keempat, IRT berlangsung sangat formal, kaku dan monoton. Yang bicara `dari awal sampai akhir ialah hanya satu orang saja. Biasanya adalah penatua/ diaken atau pendeta kalau ada perkunjungan. Anggota atau peserta ibadah biasanya pasif/diam (walau pun di beberapa tempat ada kesempatan juga diberikan kepada peserta ibadah). Dan mereka hanya dituntut untuk mendengar dan taat. Kalau ada kesempatan kepada mereka untuk buka mulut paling pada waktu mereka menyanyi atau untuk memberitahukan pokok doa yang akan disampaikan waktu doa syafaat. Waktu berdoa pun mereka hanya tutup mata dan diam sampai selesai/amin. IRT seperti pekerjaan borongan dimana pemenangnya adalah MJ sehingga hanya mereka yang berbicara. Dalam PD suasananya sangat santai, luwes dan hidup. Yang bicara tidak hanya satu orang. Selain merenungkan Alkitab di mana setiap orang boleh ikut omong, ada juga kesempatan untuk anggota bersaksi. Waktu menyanyi mereka tidak hanya bernyanyi dengan mulut tetapi tangan dan badan ikut bernyanyi. Ibadah dalam PD merupakan pekerjaan gotong royong bukan borongan oleh 1 atau 2 orang (tidak ada pemenang tender). Dalam hubungan dengan suasana ini, maka seringkali saling mempersalahkan soal liturgi. MJ menganggap bahwa liturgi PD terlalu santai dan hura-hura. Mereka berdoa tidak ada aturan, karerna semua orang berbicara sehingga tidak bisa lagi membedakan siapa yang memimpin doa. Banyak yang berteriak, menangis dan mendesis-desis seperti yang orang kepdisan mulutnya. Sebaliknya PD menganggap bahwa liturgi gereja terlalu kaku. Semua peserta ibadah seperti orang mengantuk dan hanya berdiam diri. Pertanyaannya adalah apakah sesungguhnya liturgi itu?

Kelima, dalam IRT seperti juga dalam Kebaktian Minggu, Firman Allah (khotbah) menjadi pusat liturgi. Bernyanyi dan mengaku dosa dilihat sebagai pengantar atau persiapan  untuk masuk ke dalam khotbah. Isi khotbah sangat formal dan ilmiah. Yang dibicarakan disitu ialah apa yang Tuhan Allah buat atas kita  dan bagaimana kita memberi tanggapan atas firman Allah. Khotbah lebih banyak memuaskan secara intelektual (otak). Dalam PD, pengalaman perjumpaan dengan Allah lebih ditekankan. Hal ini jelas dari cara bernyanyi, mereka bernyanyi berulang-ulang (10 X), tepuk tangan, menari, menangis, dll  sampai benar-benar bisa berjumpa dengan Allah. Waktu berdoa, pengalaman berjumpa dengan Allah kembali diusahakan. Ada orang yang berdoa sampai menangis, ada yang berteriak-teriak, ada yang tidak sadar diri/pingsan karena dicengkeram roh. Tiap-tiap orang berusaha mengalami perjumpaan dengan Allah dalam doa mereka sehingga suasana doa menjadi hiruk-pikuk. Ada yang berteriak, ada yang membentak bahkan ada yang jatuh dan berguling-guling di lantai atau tanah sambil merontak-rontak.  Dalam PD, khotbah seringkali tidak berisi ulasan dan penjelasan mengenai apa yang Allah mau untuk kita lakukan tetapi apa yang saya sudah buat bagi Allah dan sesama. Jadi khotbah lebih merupakan uraian mengenai pengalaman manusia dengan Allah. Ayat-ayat Alkitab menjadi dasar untuk membenarkan pengalaman mereka. Dalam PD, khotbah lebih merupakan cerita tentang apa yang manusia harus buat. Dalam hal ini PD memiliki ciri yang sama dengan kaum Pietisme yang berpusatkan pada manusia. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apa sesungguhnya khotbah dalam pengertian Kristen.

Dalam hubungan dengan poin 5 di atas, dalam PD tekanan diberikan kepada kesalehan atau pembaharuan hidup yang biasanya bersifat spritual/rohani saja. Pertobatan atau pembaharuan diri bukan pertama-tama supaya orang itu bisa hidup lebih baik dan bertanggungjawab dalam masyarakat, tetapi supaya mendapat kepenuhan roh. Ciri-ciri hidup yang dipenuhi roh adalah memperoleh karunia yang luar biasa seperti: menyembuhkan orang sakit, membuat mujizat, penglihatan/bernubuat, berbicara dalam bahasa roh dst. Sementara khotbah dalam Gereja/ibadah jemaat, kepenuhan roh tidak mendapat tekanan lagi. Bukan karena hal itu tidak penting tetapi ada kesadaran bahwa setiap orang percaya kepada Yesus sudah mengalami kepenuhan roh. Yang perlu adalah mendorong orang percaya untuk menjalani hidup dan kerja sehari-hari sesuai dengan kehendak roh yang diam di dalam diri mereka. (Bnd. Gal 5: 22).

  1. Kalau demikian, bagaimana kita memahami Persekutuan Doa dan bagaimana seharusnya sikap Persekutuan Doa terhadap Gereja sebagai bagian yang tidak terpisahkan seperti disebutkan di atas. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita juga perlu mengetahui, apa yang melatarbelakangi munculnya PD dan apa sumbangannya bagi Gereja?

Munculnya PD/KD dari segi sejarahnya disebabkan karena banyak hal antara lain:

Pertama, rendahnya partisipasi warga jemaat dalam ibadah. Pada hal dalam Alkitab semua orang memiliki karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi di dalam dan melalui ibadah jemaat (bnd. 1 Kor 12). Tetapi dalam praktek, tidak ada tempat untuk menampung dan mengembangkan karunia dimaksud karena yang aktif dalam ibadah hanya MJ. Sementara dalam PD, karunia tersebut mendapat tempat dan semua orang mengambil bagian untuk mengembangkannya. Karena itu, PD berkembang dan diminati banyak anggota jemaat.

Kedua, ibadah-ibadah dalam jemaat kehilangan sukacita. Injil yang merupakan kabar sukacita diubah menjadi aturan-aturan, ketentuan dan kewajiban yang membebani sehingga orang menjadi murung dan tidak ada rasa gembira. Mereka yang datang dengan resah malah tambah dibebani dengan berbagai pikiran karena mereka merasa tidak ada jalan keluar. Sebab yang disampaikan melalui khotbah, terlalu sulit untuk ditangkap dengan otak jemaat yang sebagian besar pengetahuan teologi/Alkitabnya kurang. Memang dalam PD juga tidak dengan sendirinya akan mendapat sukacita, karena sukacita itu hanya dari Tuhan. Tetapi dalam PD suasana itu dibuka untuk mereka sehingga saling membagi suka/duka dan beban (misalnya melalui kesaksian pribadi).

Dengan demikian, muncul dan hadirnya  PD juga telah membawa manfaat bagi Gereja antara lain:

Pertama, mengingatkan gereja tentang salah satu cirinya yang ada sejak semula, yakni gereja sebagai persekutuan yang berdoa (Kis. 2: 42, 4: 31). Gedung gereja mestinya berfungsi sebagai rumah doa dan karena kurang berfungsi (yakni hanya hari Minggu) maka rumah dan tempat-tempat tinggal yang menjadi “rumah doa” yang dewasa ini dikenal dengan Persekutuan Doa. Keinginan anggota jemaat untuk bersekutu di dalam doa mestinya ditanggapi secara positif karena anggota jemaat memiliki kerinduan untuk saling mendukung dalam doa.

Kedua, Persekutuan Doa memanggil gereja untuk menyadari dirinya agar membawa kabar sukacita di tengah-tengah masyarakat, bukannya sebagai sumber konflik. Dan kabar sukacita itu harus diungkapkan dalam seluruh kehidupan bukan hanya ketika kebaktian berlangsung.

Ketiga, Persekutuan Doa mendorong gereja/warga jemaat untuk lebih giat membaca dan menafsirkan Alkitab yang berkembang dalam Persekutuan Doa berhubungan dengan pengalaman ril/nyata manusia. Artinya khotbah-khotbah gereja perlu memperhatikan kenyataan hidup jemaat bukan hanya omong tentang hal-hal yang sulit ditangkap dan tidak berhubungan dengan kehidupan nyata jemaat.

Keempat, sumbangan Persekutuan Doa bagi gereja adalah semangat untuk memberitakan Injil  atau Pekebaran Injil. Pemberitaan Injil bagi anggota PD bukan sekedar pengisi waktu lowong tetapi harus dikerjakan setiap waktu dan dengan semua kemampuan yang ada. Mereka bersedia pergi kemana saja untuk bersaksi, meskipun biaya harus mereka pikul sendiri, jika diyakini bahwa Roh Kudus yang memerintahkan mereka kesana.

 

  1. Apa yang menyebabkan Gereja sehingga ada yang kurang menerima kehadiran PD, pada hal PD juga memberikan sumbangan bagi perkembangan pelayanan Gereja seperti disebutkan di atas. Sikap gereja yang kurang menerima PD sebenarnya dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa PD juga memiliki kecenderungan yang negatif, sebagai berikut:

Pertama, tekanan pada kehendak Roh Kudus, membuat anggota PD/KD seringkali meremehkan aturan-aturan dan tata tertib organisasi gereja. Banyak anggota persekutuan yang mengikuti apa “kata Roh” kemudian kurang mengindahkan aturan-aturan pelayanan yang berlaku. Bagi mereka, aturan membatasi ruang gerak Roh Kudus karena itu, ada yang kurang memperhatikan hal ini (tentu tidak semua). Bahkan ada yang sulit membedakan mana kehendak Roh dan kehendak manusia. Beberapa tahun lalu, misalnya di Kupang, karena mengikuti apa kata Roh, mereka harus dijeblos ke penjara karena mengusir setan dengan cara memukul orang sakit dengan sapu  sampai orang tersebut mati. Malah ada lagi di Kupang, yang mengatakan bahwa dia memperoleh karunia “Menjamah” (menjamah bagian tubuh yang mestinya tidak dijamah) sehingga siapa yang dia doakan harus dijamah bagian tubuhnya dengan alasan karena Roh menghendaki begitu. Pandangan demikian, jelas bertentangan dengan kesaksian Alkitab yang menekankan bahwa Roh Kudus sebagai Tuhan yang membebaskan tetap bekerja melalui aturan-aturan yang ada (bnd. 1 Kor 14: 40). Paulus dengan tegas mengatakan bagaimana jemaat di Korintus memakai karunia yang mereka miliki agar dipakai sesuai dengan aturan sehingga mendatangkan damai sejahtera bagi kehidupan bersama ( Lih. 1 Kor. 14: 1-40).

Kedua, Adanya ketertutupan dan kesombongan rohani yakni adanya anggapan sebagian anggota PD yang menganggap diri sebagai “orang rohani” yang dilengkapi secara istimewa. Karena itu kadang-kadang tidak mau berhubungan dengan mereka yang tidak menjadi anggota karena dianggap belum bertobat. Karena menganggap diri memiliki karunia istimewa, maka mereka merasa “tahu segala sesuatu” yang orang lain tidak tahu. Misalnya, peristiwa di Bandung pada 10 November 2005 yang lalu, mereka menganggap diri tahu bahwa tanggal tersebut Tuhan akan datang kembali sehingga mereka berkumpul disana dan menjual seluruh harta mereka. Dan apabila sesuatu yang mereka katakan tidak terjadi, maka itu dianggap sebagai kesalahan orang lain yang tidak taat kepada apa yang dikatakan roh. Kesombongan rohani juga nyata dari menjelekkan orang lain yang dianggap tidak memiliki Roh Kudus apa lagi kalau mereka bisa menyembuhkan orang.

Ketiga, Alkitab mempunyai posisi yang penting dalam PD. Tapi ada banyak kasus di mana Alkitab tidak dibaca untuk mengetahui kehendak Allah bagi hidupnya, tetapi Alkitab dipakai untuk membenarkan pendapat, ajaran atau sikap yang dianut oleh kelompok tersebut. Misalnya ada orang yang makan sirih-pinang sebelumnya kemudian menjadi anggota PD berhenti makan sambil mengutip Yesaya 55:2. Atau mereka yang merokok diberi ayat dari  Mazmur 18: 9, atau 1 Kor 3: 16, pada hal ayat-ayat tersebut bukan berbicara tentang sirih-pinang atau rokok.  Dan peristiwa yang masih hangat di Kupang adalah: Persektuan Doa Sion Kota Allah yang sekarang ini masih ditahan oleh Polres Kupang karena memakai Alkitab untuk kepentingan dan mendukung praktikkan yang sudah mereka lakukan. Misalnya, tidak boleh memakai sendal/sepatu; tidak boleh melayat orang mati/tempat berduka; tidak boleh pergi ke gereja dll.

Keempat, ada kecenderungan lain adalah salah faham tentang karunia-karunia Roh. Orang PD suka beranggapan bahwa nubuat dan bahasa lidah merupakan karunia istimewa dan lebih mulia dari karunia lainnya. Karena itu banyak anggota yang berusaha untuk bisa berbahasa Roh, sebab ada anggapan bahwa mereka yang belum bisa berbahasa Roh pasti masih banyak dosa atau belum bertobat dan belum bergumul secara sungguh- sungguh. (bagian ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam materi yang kedua tentang: Karunia-Karunia Roh).

  1. Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, maka ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan baik oleh Gereja maupun oleh Persekutuan Doa.

Pertama, perlu diingat dan dicamkan bahwa Persekutuan Doa tidak boleh dipandang sebagai musuh gereja. PD adalah anak kandung gereja yang berani untuk memberitahukan kepada gereja sebagai ibu kandung tentang kekurangan-kekurangannya. Demikian pula gereja sebagai ibu harus menolong anaknya agar tidak melakukan hal yang lain dari apa yang disaksikan Alkitab. Atau dengan perkataan lain, Gereja harus menerima PD sebagai bagian dari pelayanan gereja sebagaimana kelompok kategorial lainnya (PAR, Pemuda, Perempuan dll). Gereja perlu mendampingi anggota persekutuan agar semangat mereka tidak padam atau salah jalan karena berbagai kecenderungan di atas. Demikian pula PD tidak boleh memisahkan diri dari Gereja sebagai ibu. Apabila ada pelayanan yang tidak dilakukan gereja maka sebagai anggota PD, harus memperbaiki bersama pelayanan tersebut bukan menghindar dan membentuk persekutuan lain di luar gereja. Selama gereja ada, maka PD adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gereja. Karena itu pula, anggota jemaat yang aktif  dalam PD tidak bisa hanya saat tertentu baru dia aktif. Misalnya karena ada sakit, kemudian minta untuk didoakan, sembuh lalu aktif tapi setelah itu dia tidak lagi aktif. Atau PD hanya aktif pada saat tertentu sesuai kebutuhan.

Kedua, dalam hubungan dengan liturgi, Gereja juga perlu mempertimbangkan agar kebutuhan jemaat bisa didengar sehingga liturgi tidak menjadi kaku dan hanya orang tertentu yang terlibat dan jemaat menjadi pasif dan diam. Gereja perlu menciptakan liturgi yang hidup dan yang melibatkan seluruh anggota jemaat untuk mengambil bahagian di dalamnya terutama yang berhubungan langsung dengan berbagai pergumulan yang dihadapi oleh warga jemaat seluruhnya. Tetapi anggota PD juga perlu belajar bahwa berdoa atau beribadah tidak hanya kita yang berbiacara kepada Tuhan sehingga masing-masing orang berbicara semaunya tetapi juga menyadari bahwa ibadah dan doa adalah juga Allah berbicara dan kita perlu mendengar. Sebab doa adalah percakapan kita dengan Tuhan dan sebaliknya. Bukan hanya satu pihak yang berbicara yakni kita manusia tetapi kedua-duanya. Sebab bagaimana Allah mau berbicara kalau kita yang berbicara terus tanpa henti!

Ketiga, keesaan GMIT sebagai Gereja yang digambarkan sebagai Tubuh Kristus dan Keluarga Allah/Rumah Allah mengamanatkan kepada kita bahwa setiap anggota GMIT secara hakiki adalah anggota dari GMIT sebagai Tubuh Kristus. Karena itu, semua unit pelayanan termasuk Persekutuan Doa yang terbentuk di tingkat Sinode dan jemaat-jemaat secara hakiki adalah anggota-anggota jemaat GMIT. Hal ini berarti tidak ada kemungkinan bagi anggota gereja lain atau denominasi lain menjadi anggota PD GMIT. Artinya, tidak boleh Badan Pengurusnya anggota dari gereja lain apa lagi mengaturnya menurut cara gereja lain yang bukan GMIT. Sebab PD dalam jemaat adalah bagian integral dari sistem organisasi dan manajemen pelayanan jemaat GMIT. Hubungan PD dengan dengan pihak-pihak lain di luar GMIT diatur dan dilakukan berdasarkan ketentuan organisasi dan pelayanan GMIT. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan melindungi identitas dan keutuhan jemaat GMIT dalam hal sistem ajaran, tradisi teologis, sistem pemerintahan gerejaninya dan sistem keorganisasin serta manajemen pelayanannya. Karena itu pula, Program-program pelayanan PD harus mengacu kepada program strategis GMIT dan khusus pada periode 2007-2011 ini tekanannya pada peayanan KPI  holistik, tidak hanya berdoa dan dengar/memberitakan firman dalam bentuk kata-kata tetapi juga melalui karya nyata seperti pelayanan sosial (kesehatan dstnya). Dan hal ini sudah diakukan pada saat HUT BP PD GMIT secara sinodal yang ke 7 pada bulan Juli 2008 lalu.

Demikianlah beberapa catatan tentang bagaimana seharusnya hubungan natara Gereja dan Persekutuan Doa. Kiranya catatan-catatan di atas bisa dijadikan sebagai bahan diskusi kita untuk memperkaya pemahaman kita baik tentang pelayanan Gereja maupun pelayanan Persekutuan Doa. Tuhan memberkati kita semua!

[1]  Disampaikan pada acara pembinaan Anggota PD di Jemaat Oeekam Klasis Amanuban Timur  Utara, pada Selasa: 7 Oktober 2008.

[2]   Sekretaris Komisi Teologi dan Ibadah (PI/PD/MUGER) Majelis Sinode GMIT periode 2007 – 2011.

[3] Secara Sinodal, Persekutuan adalah salah satu unit pelayanan Gereja yang secara struktural menjadi bagian dari Komisi Teologi dan Ibadah,PI/PD?MUGER. PD memiliki Badan Pengurus Tingkat Sinode, yang secara resmi dikukuhkan pada bulan Juni tahun 2001.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *