PANDANGAN HISTORIS TENTANG PERAN PEMUDA

Artikel Featured Block

PANDANGAN HISTORIS TERHADAP PERAN PEMUDA

OLEH: PDT. BENYAMIN NARA LULU, M.TH

 

  1. PENGANTAR

Pertama-tama saya ucapkan selamat bertemu kepada saudara-saudara Pemuda yang datang dari berbagai Kabupaten yang tersebar di Persada Flobamora yang kita cintai. Dan terima kasih kepada Kementerian Agama ( Bimas Kristen) yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk membawakan materi sebagaimana tertera dalam makalah ini. Dari judul di atas, tergambar dengan jelas bahwa Pemuda Kristen memiliki peran. Walau pun ada “suara miring” bahwa pemuda sering hura-hura dan dianggap masih hijau baik dalam pengalaman maupun dalam pengetahuan, sehingga cenderung merasa bebas untuk berlaku sekehendaknya.[1] Kendati demikian peran pemuda tidak dapat dibantahkan oleh siapa pun, sebagaimana dikatakan oleh Homrighausen dan Enklaar[2]:

Kaum Pemuda merupakan suatu masalah yang sukar dan penting bagi Gereja Kristen dewasa ini. Kaum pemuda di Indonesia tentu saja menyerupai pemuda di seluruh dunia. Di mana-mana kaum pemuda bergerak dan bertindak. Mereka suka berbaris dan beraksi. Mereka menggemari perakan dan upacara. Mereka ingin berorganisasi serta mengikuti pemimpin-pemimpin yang dikagumi. Kaum pemuda bersifat dinamis, dan mau berjuang untuk mewujudkan cita-citanya. Mereka hendak membarui masyarakat dan ingin memberantas segala sesuatu yang jelek, yang jahat, yang merintangi perkembangan dunia ini kea rah keadilan dan kemakmuran. Mereka kurang puas dengan keadaan masyarakat yang ditinggalkan kepada mereka oleh generasi tua. Mereka mengkritik segala yang kolot. Besar semangat mereka untuk menerjunkan diri kedalam gerakan-gerakan baru. Sebab mereka belum berpengalaman[3], idealisme mereka tak ada batasnya. Tidak mengherankan bahwa  pemimpin-pemimpin pelbagai gerakan politik atau sosial selalu mengerahkan kaum pemuda untuk turut berjuang bagi cita-cita program mereka.

Kutipan di atas jelas menunjukkan kepada kita bahwa pemuda Kristen memiliki peran yang sangat besar dalam bidang sosial/masyarakat dan politik. Mereka sering dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan politik para pemimpin politik dan pemimpin masyarakat. Tentu saja pada kesempatan ini, saya tidak mengajak kita untuk mendiskusikan tentang peran-peran dimaksud. Apakah benar atau tidak. Tetapi saya mau mengajak kita untuk memfokuskan perhatian —- sesuai dengan judul makalah ini atau sesuai dengan porsi saya — pada kajian historis Theologis atas peranan pemuda Kristen. Kajian ini menolong kita untuk memahami secara baik dan benar bahwa pemuda Kristen, bukan sekedar “alat sosial-politik” para pemimpin politik dan masyarakat; melainkan alat yang dipakai Tuhan dalam sejarah keselamatan, dalam sejarah perjalanan umat Tuhan di tengah dunia ini. Kenapa secara historis? Karena Pemuda berada di dalam ranah sejarah dan terus berada dalam arak-arakan setiap babak sejarah umat manusia. Dalam medan sejarah itulah pemuda telah berperan. Kenapa secara teologis? Karena panggilan pemuda Kristen bukan sekedar sebuah panggilan manusiawi atau panggilan sosial-politik semata tetapi sebagai panggilan ilahi. Sebuah panggilan Teologis. Karena perannya berhubungan erat dengan tugas dan panggilan Tuhan. Peran yang diberikan atau dimainkan oleh setiap pemuda Kristen dalam setiap zaman dan babakan sejarah merupakan pemberian atau tugas yang diberikan Tuhan sang Pencipta dan Pemelihara hidup kita. Melalui kajian ini juga mau menunjukkan kepada kita bahwa ketika Tuhan memilih seorang pemuda (laki-laki dan perempuan) tidak menunggu seseorang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan manusia. Tetapi mereka diberi peran, secara penuh berada dalam keputusan Allah yang mutlak, yang mengetahui sampai kedalaman hati manusia.  Untuk memahami topik ini, maka saya tidak akan membahas Peranan Pemuda pada kekinian — karenamenjadi porsi beberapa pemateri— tetapi saya lebih pada pendasaran teologis. Atas dasar pemahaman demikian maka kita akan melihat bagaimana kesaksian Alkitab tentang peran para pemuda dalam sejarah kesalamatan. Dengan demikian, kajian historis dalam makalah ini, bukanlah kajian historis dalam babakan sejarah kekristenan (Sejarah Gereja) tetapi saya lebih memilih untuk kajian historis dalam pemahaman sejarah keselamatan Allah. Sejarah yang dikerjakan Allah bagi manusia (umat-Nya) melalui para tokoh pemuda yang dipanggil dan diutus-Nya.

  1. KESAKSIAN ALKITAB TENTANG PERANAN PEMUDA

Apabila kita membaca Alkitab mulai dari Perjanjian sampai Perjanjian Baru, maka para tokoh yang ditampilkan sebagai penentu dalam sejarah perjalanan umat Tuhan adalah sebagian besar para pemuda. Mulai dari nabi perintis mau pun nabi penulis, raja mau pun hakim, imam dstnya sebagian besar mereka adalah para pemuda. Dengan demikian, jika semua pemuda tersebut dikaji dan dibahas bagaimana peranan mereka pada saat ini, pasti kita tidak memiliki waktu untuk membahasnya. Karena itu, dengan batasan waktu yang ada, saya akan mengambil beberapa contoh untuk dibahas pada saat ini untuk kita bisa belajar dari perjalanan hidup dan peran mereka dalam setiap babakan sejarah yang menentukan dalam sejarah umat Tuhan. Dan secara khusus, saya mengambil contoh dari kisah pemuda dalam Perjanjian Lama.

  1. YUSUF[4]

Yusuf adalah seorang anak kesayangan atau anak manjanya[5] Yakob karena terlahir dari Rahel istri yang sangat dicintainya. Dia memiliki keunikan dibanding saudara-saudaranya yakni selalu bermimpi tetapi juga mampu menebak mimpi (bnd. Menebak mimpi juru Roti dan Juru minum serta mimpi Firaun). Karena itu, Yusuf sangat dibenci saudaranya sehingga dijual kepada para pedagang Midian yang kemudian dijual ke istana Firaun. Dia adalah seorang pemuda yang penuh tanggungjawab di dalam melaksanakan tugasnya. Dalam istilah sekarang, Yusuf adalah bukan seorang pemuda yang “merasa bisa” tetapi pemuda yang ”bisa merasa.” Artinya dia tahu posisinya sebagai seorang hamba yang diberikan kepercayaan tuannya di istana Firaun sehingga tidak berlaku lebih daripada itu (bnd. Kej. 39: 7-10). Karena itu, walau dia harus menjadi terpidana karena difitnah oleh istri Firaun dia tetap bertanggungjawab atas hidupnya sebagai anugerah Tuhan. Dan Tuhan memakai Yusuf secara luar biasa. Dia seorang pemuda yang belum berpengalaman tetapi ketika Tuhan memakainya dan dia mau dipakai oleh Tuhan; Yusuf mampu menjadi seorang pengelola ekonomi di istana Firaun. Saat 7 tahun kelimpahan dia menjadikan lumbung istana sebagai tempat menyimpan gandum dan saat 7 tahun kekurangan bisa menjadi tempat untuk meminjam atau membeli gandum. Tuhan telah memakai pemuda Yusuf bukan saja menolong bangsa Mesir tetapi juga bangsa lain di sekitarnya termasuk saudara-saudara yang telah menjualnya karena benci. Dia telah menjadi politisi “sefnat Paaneah” di Mesir dan sebagai seorang “manajer koperasi” simpan pinjam di Mesir. Dia seorang muda yang tidak mudah terjebak dalam urusan “nafsu-seksual” belaka. Seorang muda yang tidak hanya melayani kebutuhan “birahi” tuannya (isteri Potifar). Tetapi lebih beran untuk hal yang lebih besar bagi bangsanya bahkan untuk memuliakan nama Tuhan melalui hidupnya. Itulah sebanya nama Yusuf tercatat dalam sejarah keselamatan Allah. Coba kita refleksikan dan renungkan, adakah pengalaman pahit seperti yang dialami Yusuf dalam hidup kita? Pernah terbuang dari tengah keluarga; pernah difinah oleh sahabat atau orang dekat? Justru kita belajar bahwa dalam kondisi demikian, Tuhan memakai Yusuf dan tentu mau memakai kita.

  1. MUSA[6]

Musa adalah seorang anak yang lahir dari keluarga Amran dan Yokhebet dari suku Lewi, puak Kehat. dalam kondisi politik yang sangat kritis dalam kehidupan umat Israel sepeninggalnya Yusuf dan saat munculnya Firaun yang baru yang tidak mengenal Yusuf (bnd.Kel. 1: 8 dst). Dia menjadi seorang “anak buangan” di sungai Nil[7] tetapi yang kemudian menjadi “anak angkat Firaun”. Sejak kecil dia sudah dididik di dalam istana Firaun dengan adat-istiadat dan gaya hidup di Mesir tetap dia tidak lupa asal-usulnya. Itulah sebabnya, dia segera membela salah seorang umat Israel yang diperlakukan sewewenang oleh seorang Mesir (bnd. Kel. 2: 11-dstnya). Sebagai seorang pemuda yang sudah belajar dan mengetahui banyak hal tentang budaya di Mesir, Tuhan memanggilnya untuk memimpin bangsanya keluar dari suasana perbudakan dan penjajahan bangsa Mesir. Saat dipanggil, Musa juga tidak mau, tidak tahu siapa dirinya. Dia keberatan karena merasa tidak mampu, tetapi Tuhan tetap memilihnya menjadi seorang pemimpin. (bnd. Kel. 3: 10 – dstnya). Dalam dan melalui kepemimpinan Musa (dibantu Harun kakaknya), Israel telah menjadi satu umat yang meredeka, umat yang hanya percaya kepada Tuhan. Sosok Musa adalah seorang sosok pemuda yang mau belajar tetapi tetap memiliki hati untuk membebaskan bangsanya[8]. Seorang pemuda yang mau mengambil peran karena mendengar panggilan Tuhan daripada mengikuti kata hatinya.

  1. ESTER[9]

Ester adalah seorang anak yatim-piatu yang sejak kecil dipelihara oleh pamannya Mordekai (ibunya Abihail saudara perempuan Mordekhai). Nama Ester artinya Bintang[10], yang memang kemudian menjadi bintang pada zamannya. Sebuah nama untuk seorang gadis Yahudi bernama Hadasa (=artinya pohon murad)[11]. Saat terjadi situasi kritis di istana Susan yakni saat Ahasyweros mengusir ratu Wasti karena pembangkangannya atas panggilan Raja, Hadasa/Ester tampil. Dengan kecantikannya yang luar biasa dia terpilih dan berhak masuk menjadi penghuni istana dan dinobatkan sebagai ratu pengganti wasti. Melalui Mordekai, Tuhan memakai Ester untuk menolong bangsa Israel yang siap untuk dibantai karena rencana jahat Haman untuk memusnahkan semua orang Yahudi. Dengan berani Ester menghadap Raja tanpa dipanggil, untuk memberitahukan semua kondisi yang sementara terjadi di sekitar istana. Mordekai bebas dari hukuman sula sebagaimana direncankan Haman dan sebaliknya Hamanlah yang disula dan orang Yahudi bebas dari penghancuran dan mendapat hak untuk hidup di kakaisaran Persia[12]. Sososk Ester adalah seorang pelaku sejarah yang menegaskan bahwa seorang perempuan bukanlah hanya “symbol kecantikan yang dihubungkan dengan masalah seksual dan sensualitas” semata tetapi juga dengan peran politik yang menentukan walau penuh reziko (bnd. Ester 4:16). Melalui tokoh Ester juga mau mengatakan bahwa “perempuan yang sering dianggap lemah” memiliki kekuatan yang luar biasa ketika memberi diri untuk dipakai oleh Tuhan.

  1. YEREMIA[13].

Yeremia berasal dari keluarga imam dari Anatot. Nama Yeremia dari kata Ibrani Yermiyahu artinya: Allah yang mengokohkan, atau menegakkan, mengagungkan. Dari seluruh panggilan kenabian, hanya Yeremia yang disebutkan dia dipanggil masih muda dan dia keberatan karena dia masih muda (= 21 tahun;bnd. Yer. 1: 6). Tetapi Tuhan menegaskan kepada Yeremia, bahwa sejak dalam kandungan ibunya, Tuhan sudah mengenal dan telah menetapkan dia sebagai nabi. Yeremia menjadi nabi pada saat pemerintahan raja Yosia sampai Zedekia ( 5 orang raja: Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia), yaitu waktu bangsa Israel/penduduk Yerusalem diangkut ke pembuangan Babel (Mesopotamia Selatan).  Yeremia yang masih pemuda itu, telah memiliki peran yang sangat luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Israel. Peran Pemuda Yeremia sangat Nampak sebagai:

  1. Menjadi juru biacara Allah. Dia memiliki solidaritas yang luar biasa terhadap penderitaan umat. Adakah kita memiliki rasa solidaritas terhadap penderitaan bangsa kita, penderitaan para pemuda yang sementara dijerat: Narkoba,miras dstnya? Silahkan kita berefleksi.
  2. Melawan nabi Palsu, khususnya yang mengajarkan damai sejahtera semu seperti Hananya. Dia tidak gentar menghadapi kepalsuan manusia seperti penyembahan berhala yang mempersembahkan anak gadis/perawan kepada para imam untuk meminta kesuburan dan berkat dari dewa Baal. Beranikah kita seperti Yeremia untuk melawan berhala modern berupa: materialisme, perdagangan manusia (trafiking) untuk dijadikan sebagai PSK dan tenaga murah di dalam dan di luar negeri?
  3. Mengalami banyak penderitaan. Dia adalah seorang pemuda/nabi muda yang mengalami banyak penderitaan jika dibanding dengan nabi lainnya. Ia dipukul dan dipasung (yer. 20: 1-3); Nyawanya selalu terancam (26: 1-19); dipenjara oleh Zedekia (32: 1-5).

Dari kisah panggilan Yeremia jelas bahwa, dia masih muda/pemuda tetapi Tuhan telah melibatkannya. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa, untuk berperan dalam dunia milik Tuhan tidak menunggu seseorang sudah usia tua atau sudah menjelang pensiun tetapi sejak muda, sejak menjadi pemuda pun Tuhan mau supaya kita berperan. Bagaimana kita mengambil peran, akan kita belajar dari tiga pemateri lain yakni: (1) Peranan Pemuda Kristen dalam Pembangunan ditinjau dari Visi Kanwil Kemenag Prov. NTT (2) Bagaimana Peranan Pemuda sebagai Agen Kerukunan dan (3) bagaimana peran/Hakekat Pemuda sebagai Tulang Punggung Gereja.

  1. PENUTUP

Demikianlah beberapa pokok pikiran yang dapat saya sampaikan kepada kita sekalian sebagai bahan acuan untuk kita berdiskusi pada acara yang sangat berharga ini. Dan sebagai bahan referensi untuk diskusi, saya catat beberapa hal untuk kita ingat dan pertajam dalam diskusi-diskusi selanjutnya, khususnya dalam diskusi kelompok di penghujung kegiatan ini.

  1. Pemuda memiliki Peranan yang tak terbantahkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bergereja. Karena itu, pertanyaan untuk kita diskusikan adalah: bukan apakah pemuda sudah berperan, tetapai apakah peranan muda tersebut sudah maksimal dan sesuai dengan panggilannya sebaga seorang pemuda Kristen.
  2. Peranan pemuda tidak hanya terbatas atau sekedar berhubungan dengan babakan sejarah dunia atau sekedar sebagai sejarah sekuler tetapi peranan pemuda berhubungan erat dengan sejarah keselamatan Allah dalam dan di tengah-tengah sejarah dunia. Dengan demikian, keterlibatan atau peranan pemuda Kristen berkait langsung dengan sejarah keselamatan Allah untuk dunia dan manusia. Dengan demikian, apa pun peranan kita, langsung berhubungan dengan karya keselamatan Allah bagi dunia yakni untuk mewujudkan syalom-Nya.
  3. Berhubungan dengan hal kedua, maka perlu kita ingat bahwa keterlibatan dan peranan kita sebagai pemuda Kristen dalam bidang apapun, itu merupakan panggilan Tuhan yang memiliki makna teologis yakni sebagai jawaban kita atas panggilan Tuhan dan peran yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai pemuda. Atau dengan kata lain, kita adalah alat di dalam tangan Tuhan bukan alat di dalam tangan para politisi dan pemimpin masyarakat untuk mewujudkan impian manusiawi atau ambisi pribadi mereka.
  4. Dalam mengambil peranan sebagai pemuda Kristen baik laki-laki maupun perempuan, kita diharapkan agar berperan secara maksimal sesuai dengan talenta (kemampuan) yang kita miliki dan mulai dari lingkungan terkecil (keluarga) sampai lingkungan terluas yakni bangsa, Negara, masyarakat dan gereja. Peranan ini kita bisa belajar prinsip Yesus di dalam memberikan Makan kepada 5.000 orang, yakni mulai dari 5 roti dan 2 ikan yang ada pada seorang anak kecil. Dari yang ada itulah ketika memohon berkat Tuhan, menjadi sesuatu yang luar biasa.
  5. Tuhan memakai kita untuk mengambil peranan untuk memperbaharui masyarakat/gereja sesuai dengan kondisi setiap zaman. Karena itu peranan kita tidak harus sama dalam setiap babakan sejarah dunia atau gereja. Allah memanggil kita dengan peran yang berbeda-beda tetapi tujuan tetap sama yakni mewujudkan Injil Kerajaan Allah atay Syalom Allah yang berisi: keadilan, kebenaran, kasih dan kemerdekaan baik lahir maupun bathin.
  6. Selamat berdisksui, Tuhan memberkati kita.

[1]  Bnd. Pdt. O. E. Ch, Wuwungan, BIna Warga (Bungan Rampai Pembinaan Warga Gereja),  BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994, hlm. 139. Salah satu ungkapan di Kupang sering terdengar misalnya: “bosong anak muda tau apa, bosong baru kemarin, datang ajar orang yang sudah makan asam-garam kehidupan”. Dan karena prinsip ini, banyak pemuda yang masih diragukan oleh para tua-tua untuk memimpin atau melaksanakan satu tanggungjawab baik dalam masyarakat mau pun dalam Gereja, karena dianggap belum waktunya untuk mereka memimpin.

[2]  E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, hlm. 138-139.

[3]  Bold (garis tebal) ini saya yang membuatnya dengan maksud untuk penegasan atau mau menunjukkan kepada kita bahwa Pemuda sering dilabelkan dengan belum berpengalaman.

[4]  Cerita lengkap tentang Yusuf, lihat: Kejadian pasal 37 – pasal 50; bnd. James R. Skott, Yusuf, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001. Yusuf artinya: Biarlah Tuhan menamba atau penambah; J.I, Packer, et.al, Ensiklopedi Fakta Alkitab (2), Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hlm. 1436. Bnd. Sostenis Nggebu, Dari Ur-Kasdim sampai ke Babel: Karakter 30 Tokoh Perjanjian Lama, Penerbit Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2007, hlm. 38-43.

[5]  Yusuf manja tetap tidak cengeng dan  tidak  meminta belas-kasih orang lain. Dia malah seorang yang mandiri dan hanya mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Dia seorang yang juga mudah berbelas-kasih sehingga tidak mendendam atau membalas dendam. Dia seorang yang cerdas tetapi selalu menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.

[6]  Musa adalah tokoh pembebas, pelopor kemerdekaan, pahlawan utama dalam Perjanjian Lama. Jika dibandingkan tokoh di Indonesia, dia adalah sejajar dengan Soekarno-Hatta “The Founding Fathers”nya Israel. Cerita lengkap tentang Musa dapat dibaca dalam: Kitab Torat (khusus mulai Keluaran dan Ulangan).

[7]  Tentu saja berbeda dengan pemudi zaman sekarang yang membuang anaknya yang baru dilahirkan. Musa dibuang dengan maksud agar ada yang mengangkatnya. Dan benar Musa diangkat sehingga dia diselamatkan dan dipakai oleh Tuhan.

[8]  Pengetahuan Musa tentang iman diperolehnya ketika ia dididik/diasuh oleh ibu dan kakaknya selama beberapa waktu sampai ia disapih. Ketika ia berada di istana Firaun, ia belajar dan dididik berdasarkan hikmat orang Mesir, ditambah pengetahuan umum lainnya. Di Midianlah ia belajar kehidupan dan lingkungan padang gurun. Semua ketrampilan dan kemampuan yang diperolehnya ini sungguh berguna baginya ketika ia menjadi pemimpin Israel di kemudian hari.

[9]  Untuk mengerti cerita Ester, silahkan membawa seluruh kitab Ester.

[10]  Lihat. J.J. de Heer- P.S. Naipospos, Nama-Nama Pribadi dalam Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet.14, 2010, hlm. 42.

[11]  Pohon Murad  pohon yang tingginya 4,6 – 6 M, dengan daun-daun hijau tua dan mengkilap serta bunga-bunga putih berbentuk bintang yang tumbuh berangkai-rangkai; Pohon ini dianggap keramat oleh orang Yunani Kuno, dan memakainya dalam pemujaan terhadap dewi cinta, Afrodite. Bnd. J.I, Packer, et.al, Ensiklopedi Fakta Alkitab (1), Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2003, hlm. 493.

[12]   Untuk mengenang kemenangan inilah maka bangsa Israel merayakan Hari Raya Purim pada setiap tanggal 14 dan 15 bulan Adar (Februari) dalam penanggalan Yahudi, bukan saja pada zaman itu tetapi sampai zaman sekarang. Dengan demikian, dia telah menjadi seorang tokoh dan pelaku sejarah bangsa Yahudi.

[13]   Untuk memahami cerita tentang Yeremia baca seluruh kitab Yeremia. Dan Lihat Nggebu, Op.cit, 144-151.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *