HAKEKAT GEREJA

Artikel Featured Block

HAKEKAT GEREJA

OLEH: PDT.JOIS RONALD TULLE, S.TH

 

 PENDAHULUAN

Dalam berbicara mengenai gereja, biasanya ada tiga hal yang perlu diperhatikan karena ketiga hal ini yang selalu hidup dalam pemikiran sementara umat Tuhan ketika mereka mendengar kata gereja.

GEDUNG GEREJA JEMAAT PNIEL BATUINAN – SEMAU

Pertama, kata gereja berarti tempat orang kristen berbakti secara resmi dan rutin. Pikiran demikian bukan hanya berada dalam pikiran orang non Kristen tetapi juga dalam pikiran orang kristen. Sebagai akibat dari pemikiran ini, maka manusia sering beranggapan bahwa asal gedung megah, perlengkapannya mutakhir, sudah cukup. Tidak heran, orang Kristen yang pemahamannya tentang gereja secara demikian, akan berupaya membangun gedung gereja semegah-megahnya dan memperlengkapi ruang kebaktiannya dengan segala peralatan canggih, tanpa memperhatikan potensi dan kehidupan rohani/jasmani anggotanya.

Kedua, gereja berarti sistem administrasi, organisasi, dan liturgi yang dipakai sebagai sarana ibadah. Dalam berpikir demikian orang Kristen sering mempunyai kecenderungan: merasa puas kalau data yang berhubungan dengan masalah kegerejaan telah tersusun rapi di kantor gereja; merasa puas kalau liturgi gereja telah menyentuh hati setiap orang yang hadir dalam kebaktian; merasa puas kalau jumlah pengunjung kebaktian sudah cukup banyak.

Ketiga, gereja adalah persekutuan manusia/orang percaya yang telah ditebus atau sudah diselamatkan oleh Kristus. Gereja dalam pengertian inilah yang sering disebut dengan ekklesia. Tapi persekutuan orang percaya yang bagaimana? Ini juga terkadang dipahami secara sempit yakni Gereja A, gereja B dstnya. Dengan demikian, ada beragam pemahaman di tengah kehidupan orang Kristen mengenai apa sesungguhnya gereja itu. Jika demikian, maka pertanyaan bagi kita adalah apakah sesungguhnya gereja itu, dan apa hakekatnya. Pertanyaan inilah yang akan menuntun kita di dalam pembahasan keseluruhan materi ini.

ARTI KATA GEREJA

Untuk memahami arti kata gereja, ada beberapa kata yang menjelaskan tentang arti dan makna kata ini.[1]

Pertama, kata gereja sebenarnya berhubungan dengan istilah Portugis, Igreya yakni kawanan domba, yang dikumpulkan oleh gembala. Karena itulah, jemaat Tuhan/anggota gereja sering disebut kawanan domba Allah dan pemimpinnya juga dikenal dengan istilah gembala.

Kedua, kata Kuriake artinya yang menjadi milik Kurios (Tuhan) yakni milik Tuhan Yesus Kristus. Dari pemahaman inilah terkandung makna bahwa gereja bukan milik manusia atau orang tertentu tetapi gereja adalah milik Tuhan.

Ketiga, kata Ekklesia dari kata: ek dan kaleo artinya memanggil keluar yakni orang yang dipanggil keluar dari antara orang banyak untuk melakukan tugas tertentu di dalam dunia ini.

Dari ketiga istilah ini, dalam PB memakai kata Ekklesia untuk menjelaskan tentang hakekat gereja. Untuk itu, dalam rangka kita mengerti hakekat gereja maka kita perlu memahami lebih mendetail tentang Ekklesia.

PEMAHAMAN TENTANG EKKLESIA/GEREJA

GEDUNG GEREJA JEMAAT SONAF MOLE UIASA-SEMAU

Perkataan ekklesia yang dipakai dalam PB sebenarnya mempunyai dua latar belakang yakni: latar belakang Yunani dan Yahudi. Di kalangan orang Yunani/Atena, ekklesia berarti perhimpunan rakyat yang dipanggil untuk mengadakan rapat. Orang-orang yang dipanggil itu, terdiri dari penduduk kota yang tidak kehilangan haknya sebagai warga negara. Dalam rapat itulah diambil berbagai keputusan penting seperti: menyatakan perang, pemilihan jenderal dstnya. Dalam  pertemuan yang besar itu biasanya didahului dengan doa dan mempersembahkan korban, setelah itu pembicaraan yang sifatnya demokratis berlangsung.[2] Sementara dalam latar belakang Ibrani berhubungan dengan kata qahal, berarti: mengundang, memanggil. Dalam pengertian orang Ibrani, ekklesia adalah umat Allah yang dipanggil berhimpun oleh Allah untuk mendengar atau berbuat sesuatu bagi Allah.

Dari kedua latar belakang tersebut, PB memakai istilah yang sama namun memiliki arti dan makna yang berbeda-beda. Karena itu, berbagai makna dimaksud perlu kita dalami lebih lanjut.

  1. Ekklesia dalam Injil Matius (Mat. 16:18). Yang dimaksud dengan ekklesia dalam ayat ini adalah gereja secara keseluruhan di dunia ini, bukan hanya gereja setempat saja. Di atas pengakuan iman yang kuat dan berani ini, Yesus Kristus mendirikan jemaatNya atau ekklesia-Nya. Yang mendirikan ekklesia itu adalah Tuhan Yesus bukan Kaisar sebagaimana dipahami orang Yunani. Karena itu, pengakuan Petrus ini sangat berani dan sungguh kuat. Sebab dikatakan dia mengaku imannya di Kaisarea-Filipi. Di daerah ini terdapat 14 kuil, tempat pemujaan kepada para dewa kafir. Menurut keyakinan orang Yunani, Gua Kaisarea –Filipi adalah tempat kelahiran Dewa Panias, dewa alam. Kota tersebut sering dikunjungi oleh para penyembah berhala. Di daerah itu juga ada kuil yang dibangun oleh Herodes Agung untuk dipersembahkan kepada Kaisar. Singkatnya, Petrus berani mengaku imannya di tengah-tengah kekafiran seperti itu. Ini menunjukkan bahwa hakekat gereja yang benar adalah gereja yang berani mengaku imannya kepada Yesus sekalipun di tengah tantangan kekafiran dan penyembahan berhala termasuk berhala modern seperti : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang sedang dipuja manusia melebihi Yesus. Inilah yang menjadi dasar bagi gereja bahwa hanya di atas pengakuan akan Yesus gereja/ekklesia  bisa ada dan hadir bukan karena jasa atau kekuatan manusia.
  2. Di samping pemahaman dasar di atas, maka ada berbagai lukisan yang disaksikan oleh PB tentang makna atau hakikat dari Gereja/Ekklesia, sebagaimana nyata dalam hal-hal berikut.

2.1. Ekklesia sebagai Tubuh Kristus (Ef.1: 22-23; 4: 12; 5:23,29; Kol. 1:18, 24; 1 Kor. 10:16-17; 12: 12-13; Rom. 12:4). Menurut Karl Barth, ekklesia sebagai tubuh Kristus sebagaimana digambarkan dalam Surat Efesus dan Kolose adalah untuk menekankan hubungan antara ekklesia dengan Kristus, seperti tubuh dan kepala.[3] Hal ini mengandung makna bahwa gereja harus takluk dan diperintah oleh Kristus. Gereja tidak boleh seolah-olah dialah sendiri yang memerintah dirinya. Ekklesia juga suatu badan yang kelihatan, kendati Kristus sudah naik ke sorga. Itulah sebabnya maka Gereja sering dilihat sebagai gereja yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Gereja sebagai organisasi dan gereja sebagai organisme. Sementara apabila kita membaca 1 Korintus dan Roma, Paulus sebenarnya mau menekankan aspek lain dari tubuh Kristus yaitu persekutuan dengan sesama umat yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Karena itu dengan tegas Paulus menjelaskan bahwa:

  • Adanya keanekaragaman dalam tubuh Kristus, namun bukan untuk dipertentangkan satu dengan yang lainnya, tetapi justru untuk saling melengkapi.
  • Adanya bermacam-macam karunia dan kemampuan dalam tubuh Kristus itu, yang semuanya harus dipakai untuk membangun iman umat
  • Semua bagian dari tubuh Kristus mempunyai kemuliaan yang sama tidak ada yang lebih mulia dan yang lainnya hina.
  • Semua bagian dari tubuh Kristus hendaknya merasa saling membutuhkan bukan untuk saling menjegal dan membinasakan
  • Semua bagian dari tubuh Kristus hendaknya berfungsi pada posisi masing-masing
  • Semua bagian dari tubuh Kritus perlu bergerak dan beraktifitas sehinggaTubuh Kristus itu sehat dan kuat (perlu diciptakan program yang melibatkan semua anggota jemaat)
  • Semua bagian dari tubuh Kristus perlu diorganisir secara rapi dan tertib dalam segala kegiatannya sehingga tidak terjadi kekacauan.
    • GEDUNG GEREJA JEMAAT EMAUS TUTUN-SEMAU

      Ekklesia sebagai ladang Allah dan bangunan Allah (1 Kor 3:9). Hal ini mengandung makna, Jemaat sebagai ladang maksudnya adalah jemaat milik Allah yang perlu dikerjakan dan diupayakan sehingga produktif bagi Kerajaan Allah. Jemaat perlu dibersihkan dari kekotoran dan kenajisan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sementara jemaat sebagai bangunan Allah mengandung makna: jemaat dibangun dari bermacam-macam manusia dengan segala keanekaragamannya. Kristus adalah batu penjuru jemaat yang di atas jemaat dibangun.

2.3 Ekklesia sebagai Keluarga Allah (Ef. 2:19) maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan berjemaat hendaklah dapat dirasakan cinta kasih dan kehangatan persaudaraan Kristen. Masing-masing warga jemaat menjadi saudara, bukan karena ras atau keturunan, tetapi karena iman kepada Kristus.

2.4. Eklesia sebagai Bangsa Yang terpilih dan Imamat yang Rajani (1 Pet 2:9).  Makna yang terkandung dalam pemahaman ekklesia sebagai bangsa yang terpilih adalah berhubungan dengan latar belakang PL tentang Israel sebagai umat Pilihan Allah (Ul. 7: 6-9). Dalam bagian ini ditegaskan bahwa: Israel atau gereja dipilih bukan karena jasa mereka; dipilih bukan karena Tuhan terpikat dengan Israel/Gereja tetapi dipilih karena anugerah Tuhan semata-mata. Sementara pemahaman tentang ekklesia sebagai Imamat Rajani mengandung makna: setiap orang Kristen mempunyai hak untuk mendekati Allah; dan setiap orang Kristen mempersembahkan pekerjaannya, penyembahannya dan dirinya sendiri kepada Allah.

2.5. Ekklesia sebagai Rumah Allah (1 Tim. 3:15; Ib. 10:21; 1 Kor. 3: 16-17). Dalam beberapa nas tersebut, menjelaskan bahwa ekklesia adalah jemaat milik Allah sendiri; Allah berkenan tinggal dalam jemaatNya (bandingkan dengan 1 Kor 3:16). Dalam pemahaman inilah GMIT memahami Yesus sebagai Tiang induk yang menopang jemaat sebagai rumah Allah.

Demikianlah beberapa catatan pendahuluan untuk kita memahami apa sesungguhnya hakekat gereja, sehingga dengan mengetahui hal ini, kita bisa  merencanakan berbagai program pelayanan yang menyentuh masih-masing bagian sesuai dengan hakekat Gereja seperti yang disaksikan Alkitab.

[1] Penjelasan lengkap tentang Gereja, lihat: Lembaga Pendidikan Kader GKJ/GKI Jateng, Berkumpul Di Sekitar Kristus: Buku Pegangan untuk Pengajaran Iman Kristus, BPK Gunung Mulia, 1989, hal. 164 dst.

[2]  William Barclay, New Testament Word, London: SCM Press, Ltd, 1973, hal. 68-70

[3]  Pandangan Barth sebagaimana dikutip, M.H. Bolkestein,  Asas-asas Hukum Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1966, hal. 8.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *