GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP

Artikel Featured Block

GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP: CATATAN PENGANTAR ATAS HASIL INVESTIGASI PERTAMBANGAN MANGAN DI PULAU TIMOR

OLEH: MAJELIS SINODE HARIAN GMIT

           

PENGANTAR

Pertama-tama saya atas nama pribadi dan lembaga (Sinode Gereja Masehi Injili di Timor), mengucapkan terima kasih dan menyambut dengan gembira atas pemaparan dan akan dilaunchingnya hasil investigasi para tokoh agama dan pemerihati tambang khususnya mangan di Pulau Timor. Tentu kita berharap bahwa hasil investigasi ini akan menjadi sumber hikmat bagi kita semua (pemerintah, gereja, dan masyarakat) sehingga berbagai persoalan pertambangan khususnya perosalan mangan di pulau Timor dapat dicari jalan terbaik di dalam menyelesaikannya.

Secara pribadi, harus mengakui bahwa saya tidak menggeluti secara khusus tentang persoalan mangan sehingga seluk-beluk tentangnya sangat minim, apa lagi masalah mangan baru mencuat beberapa tahun terakhir. Walaupun masalah mangan baru mencuat yang memunculkan “pro dan kontra[1]” di tengah-tengah masyarakat dalam beberapa waktu terakhir ini. Namun, sebenarnya sudah sejak lama kita diperhadapkan dengan masalah lingkungan hidup. Masalah ini telah membawa gereja dan pemerintah berada dalam situasi dilematis. Sebab pada suatu sisi ada upaya untuk memelihara dan menjaga lingkungan namun pada sisi yang lain ada upaya mengeksploitasi yang berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan.

Gereja khususnya GMIT sudah sejak lama juga memperlihatkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Secara sadar dan sengaja keprihatinan tersebut dituangkan di dalam dokumen gereja. Namun cara berteologia tradisional yang lebih menekankan hal-hal surgawi yang sifatnya rohani ternyata berdampak pada tanggung jawab sosial Ekologis dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat  yang minim. Dengan demikian keprihatinan kita di bidang ekologi tidak diimbangi dengan tanggung jawab untuk memelihara dan melestarikan lingkungan sebagai panggilan iman bersama. Bahkan ketika ada masalah ekologi yang mengimpit kita, banyak yang tidak bersuara dan memilih bungkam karena dianggap ini bukan tanggungjawabnya; dunia sekarang rusak tidak soal, sebab kita akan diberikan Yerusalem baru (bumi baru) yakni Sorga.

TANGGUNG JAWAB GEREJA

Pantai Batuinan – Semau

Secara teologis Allah memanggil kita untuk menjaga dan memelihara taman. Asumsi dibalik itu ialah kita diamanatkan untuk tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap alam tanpa memperhitungkan keseimbangannya.        ( Kejadian 2: 15). Dalam kaitan dengan mandate dimaksud, manusia tidak ditempatkan Tuhan sebagai “manusia ekonomi” semata yang dalam mengelola bumi milik Tuhan untuk memperoleh hasilnya secara ekonomis dengan mengabaikan aspek lainnya. Dalam Kejadian 1: 26-28, jelas menegaskan bahwa manusia adalah “segambar dan serupa” dengan Allah. Sebagai implikasi atas hakekat manusia sebagai gambar Allah maka manusia diberikan mandat untuk mengelola bumi, namun pada saat yang sama ia harus mempertanggung jawabkan kepada Tuhan apa yang ia lakukan. Kuasa yang diberikan kepadanya bukan kuasa tanpa batas sehingga ia bisa semena-mena terhadap alam yang menjadi lingkungan di mana ia harus hidup. Alam harus dijaga agar tetap menjadi firdaus baginya sebab di atasnya masih ada Allah yang harus dihormati dan kepada-Nya ia harus mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Namun kenyataanya bumi tidak lagi menjadi firdaus oleh karena ulah manusia itu sendiri.

Implikasinya bagi gereja, ialah bahwa gereja tentunya perlu merumuskan kembali apa yang menjadi visi dan misinya di bidang lingkungan hidup. Visi holistic gereja dalam menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah sebagaimana diamanatkan oleh Kristus mengharuskan gereja untuk melaksanakan misi yang holistik pula. Tanggungjawab GMIT dalam hubungan dengan lingkungan sangat jelas dalam Pokok-POkok Ekllesiologi GMIT:

Pantai Onan Balu-Semau

Berhadapan dengan fakta kerusakan lingkungan hidup (tanah,air, hutan, laut, udara) yang semakin parah pada zaman ini, GMIT punya tugas untuk merawat alam semesta ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik, bahkan sangat baik. Karena masalah lingkungan hidup adalah masalah bersama, maka sebagaimana kita adalah bagian dari masalah maka kita pula bagian dari jalan keluarnya. Alam semesta adalah ciptaan Allah, dan manusia menghargai batas-batas yang diletakan oleh Allah sendiri  dalam mengelola dan memanfaatkan alam untuk kepentingannya. Meskipun manusia disebut gambar Allah namun manusia bukan pencipta semesta. Karena itu semesta harus diperlakukan dengan hormat sebagai sesama ciptaan.  Di antara Allah,manusia dan alam semesta ada hubungan timbale balik yang harus dijaga dengan rasa hormat. Sebagaimana Allah mengikat perjanjian dengan manusia, Allah pun dapat mengikat perjanjian dengan alam semesta buah tangan-Nya. Keselamatan manusia memiliki hubungan dengan pemulihan terhadap alam. Jika manusia tidak bertobat maka Allah dapat memakai alam semesta sebagai nabi yang menegur dan menghukum manusia ( Hosea 4: 1-3). Untuk itu GMIT perlu melahirkan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar pendorong bagi perhatian jemaat/ masyarakat. Dengan teologi kontekstual ini diharapkan aka nada sumbangan masyarakat (jemaat) local terhadap upaya dunia mengatasi krisis lingkungan, sekaligus perawatannya demi keberlanjutan, baik bagi manusia mau pun alam lingkungan. GMIT perlu menghayati dan mewujudkan penaggilan da amanat untuk mengelola taman kehidupan        ( Kejadian 2 : 8-17) dan mempertanggungjawabkan amanat itu kepada sang Pencipta). Hal ini semakin mendesak di era krisis ekolog global di masa sekarang karena ancaman bencana di depan mata kita.

Pokok-pokok pemikiran di atas menjadi keprihatinan dan tanggungjawab Gereja yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu, gereja diperhadapkan dengan setiap perbuatan yang menyimpang dari amanat penciptaan di atas khususnya yang merusak lingkungan hidup harus menyampaikan suara kenabiannya. Gereja harus berada di baris terdepan bersama dengan semua komponen masyarakat yang peduli akan kelestarian dan keberlanjutan bumi ciptaan Tuhan yang semakin rusak oleh perbuatan manusia. Dengan demikian, persoalan pertambangan mangan yang sedang mengancam lingkungan hidup di pulau Timor menjadi keprihatian Gereja yang perlu dicari jalan keluarnya. Untuk melaksanakan tugas ini maka perlu membangun jejaring dan kerjasama dengan semua pihak yang memiliki “hati yang berbelas kasih” terhadap lingkungan hidup.

PENUTUP

Demikianlah beberapa catatan pengantar sehubungan dengan kegiatan yang sangat bermartabat ini. Sebagai catatan akhir, sebagai Gereja, kami mengharapkan agar kita semua saling bekerja sama di dalam menangani berbagai masalah dan dampak ikutan sebagai akibat dari kehadiran Mangan di pulau Timor ini. Mari kita berpikir dan bertanya kembali: apakah memang tidak ada jalan lain yang ditempuh untuk membangun masyarakat yang secara ekonomi miskin”, apakah memang “tambang sebagai jalan keluar”. Bagi saya, kita perlu menjawab pertanyaan ini  secara bersama-sama antara: gereja/jemaat, masyarakat dan pemerintah serta semua pihak yang mendapat amanat oleh Tuhan untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan Tuhan. Semoga moment ini menjadi salah satu jalan untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama untuk melestarikan bumi Flobamora yang kita cintai khususnya: Persada Pah Metoh, negeri yang memberikan aroma cendana wangi. Tuhan memberkati kita.

[1]  Pro-kontra ini tentu saja sangat bervariasi: mulai dari soalnya belum jelas atau tidak adanya regulasi (Perda) tentang Pertambangan Mangan, soal harga, isu lingkungan dan persoalan tanah (lahan tambang) yang menyebabkan relasi antara sesama keluarga yang tidak harmonis soal siapa yang lebih berhak atas lahan yang menjadi daerah tambang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *